Sepakbola, Bisnis dan Kapitalisasi

Sepakbola, Bisnis dan Kapitalisasi

- Sepakbola
Selasa, 18 Okt 2005 12:19 WIB
Sepakbola, Bisnis dan Kapitalisasi
Jakarta - Baru-baru ini Presiden FIFA Sepp Blatter menyatakan keprihatinannya atas gejala kapitalisasi dalam sepakbola. Sebagaimana dilansir The Financial Times Blatter beranalog; "saat ini mayoritas tim sepakbola bertarung dengan tombak, namun beberapa klub rakus yang memiliki dana besar menggunakan hulu ledak nuklir." Makna dari pernyataan ini tidak lain adalah bahwa dalam dunia persepakbolaan kini sedang berjalan di arah rel kapitalisasi. Beberapa pengelola klub sepakbola di Eropa sangat antusias memajukan klubnya dengan cara memainkan uang sebagai pilar utamanyaKeprihatinan Presiden FIFA itu didasarkan pada model perekrutan pemain dengan gaji tinggi, membumbungnya harga tiket, peran agen transfer pemain, turunnya jumlah penonton dan kejenuhan siaran televisi. Semua gejala tersebut menurut Blatter dianggap sebagai bentuk deviasi dari watak dasar dunia persepakbolaan yang sebenarnya harus lebih mengutamakan nilai sportivitas olahraga ketimbang perhitungan bisnis. Namun kenyataannya, sepakbola kini telah memasuki pasar bisnis. Gejala ini menurut Blatter adalah munculnya para pebisnis yang sedikit mengerti sepakbola, bahkan tidak mempunyai ketertarikan pada sepakbola namun tertarik dengan peluang uang dari dunia sepakbolaApa yang dikatakan Blatter memang tidak salah. Kapitalisasi klub-klub sepakbola di Eropa pada dua dasawarsa terakhir ini sangat menonjol. Fenomena yang menonjol adalah kesuksesan promosi perusahaan Adidas dalam memasarkan produk bola merek Roterio pada saat kejuaraan Piala Eropa pertengahan tahun 2004 lalu. Saat itu, Adidas-Solomon dan UEFA sepakat hanya memakai bola Roterio saat kejuaraan berlangsung. Dampaknya, Roterio yang dijual eceran seharga $120 itu terjual 6 juta buah. Majalah BisnisWeek (2004) lalu menilai, laris-manisnya Roterio ini adalah bukti keberhasilan pihak Adidas yang mampu menangkap kekuatan komersial sepakbola yang luar biasa. Pada tahun 2004 lalu, klub-klub Eropa diperkirakan mencatat pendapatan $12 miliar dalam satu musim kompetisi. Sementara di Inggris, Jerman, Prancis, dan Italia telah meningkatkan penjualan mereka tiga kali lipat sejak pertengahan 1990-an. Di seluruh dunia, sepakbola mampu menghasilkan sekitar $3,1 miliar per tahun dari penjualan produk-produk bermerek terkait sepakbola, seperti kaos, sepatu dan jenis merchandise lainnya. Klub Manchester United (MU) dari Inggris memiliki penjualan tahunan $317 juta. MU memang bisa menjadi patokan keberhasilan industrialisasi sepakbola dunia. Klub ini berhasil membangun basis penggemar global dengan memainkan berbagai pertandingan eksebisi di luar Inggris. Pasar internasional menyumbang 40% penjualan kaos MU. Di Prancis klub Olympique de Marseille setelah dikelola melalui manajemen bisnis pada tahun 1996 mampu meningkatkan penjualan seragam tim, yang diecer $ 80 dari sebelumnya 20.000 meningkat menjadi 250.000 kostum. Marseille yang cenderung meniru gaya binis MU ini juga melakukan ekspansi bisnis sampai ke Cina dengan cara menarik penggemar di negeri Tirai Bambu ituSebelumnya klub Perugia Italia setelah Piala Dunia 1998 merekrut pemain Jepang Hidetoshi Nakata. Efeknya, Perugia menangguk banyak uang dari hasil penjualan kaos klub anggota Serie-A ini di Jepang. Dengan strategi pemasaran yang sifatnya ekspansif tersebut terbukti berhasil menyegarkan kondisi keuangan sebuah klub. Sementara bagi klub yang hanya populer di negeri sendiri berisiko terpuruk dalam lingkaran setan di mana pendapatan yang sangat terbatas menyulitkan pihak klub tersebut membeli pemain-pemain kelas atas. Dengan kondisi tersebut, biasanya penampilan klub rusak di lapangan, yang pada gilirannya akan mengurangi ketertarikan penonton dan sponsor.Sebagai contoh adalah klub Karlsruhe SC, Jerman. Pada tahun 1997 klub ini berada di posisi tujuh di Bundesliga dan lolos ke Piala UEFA. Tapi di musim berikutnya, tim ini hancur berantakan dan turun ke divisi satu. Dua tahun kemudian, Karlsruher kembali turun ke Liga regional. Karena tidak mendapatkan pemasukan dari siaran TV dan ditinggalkan banyak penggemar, tim ini mencapai jurang kepailitan pada 2002 dan harus diselamatkan oleh Pemerintah Kota Karlsruhe dan bank-bank lokal yang berempati.Dominasi kelasHukum sebuah organisasi atau perusahaan dalam ranah kapitalisme adalah "profit orientied". Artinya, penetapan suatu kebijakan (bisnis) selalu mengarah pada rasionalitas untung rugi. Ekstrimnya mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, dengan modal sekecil-kecilnya. Namun jika upaya mendapatkan keuntungan harus dengan modal besar, pelaku bisnis harus punya target matematis berapa keuntungan akan didapat setelah "mengorbankan" modal besar. Dalam konteks ini, para pelaku bisnis klub-klub sepakbola raksasa di Eropa sudah sangat jeli memperhitungkan. Mereka berani membayar mahal para pemain-pemain handal, sebab target keuntungan sudah diperhitungkan secara matang. Bagi klub yang tidak punya perhitungan "dagang" seperti itu dipastikan akan mati di tengah jalan seperti yang dialami Karlsruhe SC.Dalam pasar bisnis, kapitalisasi juga berakibat memunculkan pertentangan kelas antara yang kaya dan yang miskin. Klub-klub yang masuk kategori kaya seperti MU, Real Madrid, AC Millan, Bayern Munich, FC Barcelona, Juventus, Arsenal, Inter Milan, Liverpool, Chelsea adalah femomena klub yang keberadaannya menguasai pasar persepakbolaan di Eropa, bahkan hegemoninya mampu menghipnotis pecandu sepakbola dunia. Hukum dominasi kelas atas terhadap kelas bawah adalah mempertahankan melalui berbagai macam cara. Salah satu cara yang efektif adalah memanfaatkan sarana birokrasi, pranata dan cara dalam kompetisi. Wacana pembentukan Liga Super Eropa yang di dalamnya hanya akan melibatkan klub-klub elit yang beberapa waktu lalu merupakan indikator adanya usaha dari kelompok klub elit untuk menjaga atau bahkan memaksakan kepentingannya.Gagasan klub-klub yang berada dalam kasta tinggi di Eropa tersebut jelas memperlihatkan bagaimana kelas kaya mempertahankan eksistensinya, mempertahankan kapitalnya. Kritik atas kapitalismeKeprihatinan FIFA yang demikian itu memang perlu dikemukakan sebagai wacana publik. Sebab bagaimanapun juga olahraga harus dijaga dengan rambu-rambu nilai dan norma tertentu untuk menjaga dari rongrongan nilai dan norma lain, seperti bisnis dan politik.Kapitalisme (neo-liberalisme) merupakan keharusan sejarah dunia. Semua bidang kehidupan, seperti agama, seni, budaya, termasuk olahraga akan bersinggungan dengan kapital dan politik. Hanya orang-orang yang berpikir naif dan anti kemajuan yang menentang kapitalisasi atau komersialisasi. Tentu keprihatinan Sepp Blatter di atas juga bukan dalam rangka menentang kapitalisasi secara total. Kapital boleh berperan, namun jangan sampai menentukan segala-galanya. Dominasi berlebihan dari kepentingan bisnis atau politik akan mengakibatkan rusaknya nilai dan orientasi dasar sepakbola.===*) Penulis adalah Pengamat Sepakbola, sedang menyelesaikan buku "Sejarah Piala Dunia". Alamat e-mail: karikatur2005@yahoo.co.id (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads