Atletik Rusia Diguncang Skandal Doping, Terancam Dilarang Tampil di Olimpiade

Atletik Rusia Diguncang Skandal Doping, Terancam Dilarang Tampil di Olimpiade

Novitasari Dewi Salusi - Sport
Selasa, 10 Nov 2015 17:12 WIB
Atletik Rusia Diguncang Skandal Doping, Terancam Dilarang Tampil di Olimpiade
(Cameron Spencer/Getty Images)
Jakarta -

Rusia terancam tak bisa mengirim atlet atletiknya ke berbagai turnamen internasional, termasuk Olimpiade 2016. Sebuah laporan mengungkap adanya skandal doping besar-besaran dan terstruktur di Negeri Beruang Merah itu.

Terkuaknya skandal ini berawal dari program dokumenter yang disiarkan oleh sebuah stasiun TV Jerman, ARD, pada 3 Desember tahun lalu. Program tersebut mengklaim bahwa mereka menemukan bukti dari sebuah skandal doping sistematis yang dilindungi di Rusia.

Program tersebut mengklaim bahwa atlet-atlet Rusia membayarkan 5% dari pendapatannya kepada ofisial yang mengurus doping untuk menyuplai obat-obatan terlarang dan menutup-nutupi hasil tes. Dokumenter itu juga menyertakan testimoni dari seorang atlet Rusia yang mengaku menggunakan obat yang dilarang dalam olahraga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebuah komisi independen kemudian dibentuk oleh WADA (Badan Anti-Doping Dunia) untuk menginvestigasi skandal ini. Hari Senin (9/11/2015), komisi tersebut merilis laporan yang mengungkapkan adanya kultur kecurangan yang mengakar di dunia atletik Rusia. Pemerintah Rusia juga diduga mengetahui skandal doping ini dan menutup-nutupinya.

Laporan setebal 323 halaman itu secara umum mengungkapkan bahwa skandal doping di Rusia ini sangat sistematis. Tak cuma atlet, pelatih hingga dokter dan staf laboratorium diduga juga terlibat.

Dari sisi atlet, banyak atlet Rusia yang disebut bersedia menggunakan doping. Namun laporan tersebut juga mengungkapkan peran besar pelatih dalam mendesak atletnya untuk menggunakan doping. Atlet yang tidak bersedia mengikuti 'program' akan dicoret dari tim nasional.

Untuk meyakinkan atlet-atletnya bahwa apa yang dilakukan adalah normal, pelatih akan mengarahkan mereka agar percaya bahwa semua negara juga menjalankan metode yang sama dan menggunakan doping adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk menjadi kompetitif, bahkan wajib demi membela bangsa. Pola pikir inilah yang kemudian membuat kecurangan --dalam hal ini doping-- menjadi mengakar di Rusia.

Skandal ini kian sistematis karena otoritas antidoping Rusia (RUSADA) juga terlibat. Menurut laporan tersebut, RUSADA bisa mengeluarkan surat pemberitahuan yang menghindarkan atlet dari tes doping. Ofisial RUSADA juga secara rutin menerima suap dari atlet untuk memastikan hasil tes tidak efektif.


Ilustrasi (Getty Images/Adam Pretty)

Laboratorium antdoping di Moskow yang terakreditasi WADA juga terlibat dengan menutupi skandal tersebut. Direktur laboratorium tersebut, Grigory Rodchenkov, diduga telah memerintahkan untuk menghancurkan 1.417 sampel yang ada di laboratorium jelang inspeksi tim audit dari WADA.

Pemerintah Rusia diyakini mengetahui skandal besar ini. Laporan dari komisi independen WADA menyimpulkan bahwa aktivitas sebesar ini tidak mungkin terjadi tanpa persetujuan dari otoritas pemerintah.

Dalam skandal ini, pemerintah Rusia lewat badan intelijennya, Federal Security Service (FSB), melakukan intervensi secara langsung di laboratorium antidoping. Agen FSB secara teratur mengunjungi laboratorium dan meminta stafnya agar tidak kooperatif dengan WADA. Keberadaan FSB dinilai sebagai bentuk intimidasi terhadap staf dan proses kerja di laboratorium. Agen FSB juga menyusup ke laboratorium antidoping di Olimpiade Musim Dingin 2014 di Sochi dengan menyamar sebagai laboran.

Laporan tersebut merekomendasikan sanksi seumur hidup untuk lima atlet, empat pelatih, dan satu dokter. Di antara atlet-atlet tersebut terdapat peraih medali emas lari 800 meter di Olimpiade 2012, Mariya Savinova, dan peraih medali perunggu di nomor yang sama, Ekaterina Postogova. Laporan komisi independen juga mencantumkan atlet-atlet yang menolak bekerja sama dengan investigator. Para pelatih juga disebut menghalangi proses investigasi.

Atas skandal ini, komisi independen juga merekomendasikan agar IAAF (Federasi Asosiasi Atletik Internasional) menskors Rusia dari semua kompetisi internasional.

"Ini lebih buruk daripada perkiraan kami. Ini punya dampak langsung pada hasil di lapangan dan atlet, baik di Rusia dan luar negeri, menderita karenanya. Ini mungkin sisa-sisa sistem kuno Uni Soviet. Mereka harus menghentikannya dan membuat awal yang baru," ucap Kepala Komisi Independen, Dick Pound, seperti dikutip Reuters.

"Saya harap mereka akan mengatakan ini sebagai kesempatan untuk menyingkirkan sistem yang kuno ini, menyingkirkan pelatih-pelatih tua, dan mengubah cara mereka. Jika mereka (Rusia) melakukan pembenahan, dan terapi, saya harap mereka bisa ada di sana (Olimpiade Rio) dan berkompetisi," imbuhnya.

Presiden IAAF, Sebastian Coe, sudah mendesak dewan majelis IAAF untuk mulai mempertimbangkan sanksi untuk federasi atletik Rusia (ARAF). Sanksi yang mungkin dijatuhkan adalah melarang semua atlet Rusia untuk berpartisipasi di kompetisi internasional, termasuk Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro. Federasi atletik Rusia diberi waktu hingga akhir pekan untuk menjawab tuduhan-tuduhan ini.

Terkuaknya skandal di Rusia ini dinilai hanya sebagai sebuah fenomena gunung es. Komisi independen memperingatkan bahwa Rusia dan atletik bukan satu-satunya negara dan cabang olahraga yang diduga punya program antidoping yang tidak efektif. Pound menyebut bahwa Kenya juga punya masalah serupa setelah terlibat dalam berbagai kontroversi soal doping dalam beberapa tahun terakhir.

Rusia memang dikenal sebagai salah satu raksasa di cabang olahraga atletik. Di Olimpiade 2012 lalu, Rusia finis di belakang Amerika Serikat setelah meraih total 17 medali, delapan di antaranya emas.


(nds/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads