DetikSport
Minggu 21 Mei 2017, 18:20 WIB

Prihatin Melesetnya Target di ISG, Kemenpora Juga Siap Bertanggung Jawab

Mercy Raya - detikSport
Prihatin Melesetnya Target di ISG, Kemenpora Juga Siap Bertanggung Jawab Wahyu Putri saat tampil di senam ritmik ISG 2017 Baku. (Foto: Francois Nel/Getty Images)
Jakarta - Kontingen Indonesia gagal memenuhi target di Islamic Solidarity Games (ISG) 2017 Baku. Kemenpora akan ikut bertanggung jawab atas hasil tersebut.

ISG memang bukan sasaran utama para atlet nasional. Ajang itu dijadikan sarana pemanasan atlet-atlet nasional menuju SEA Games 2015 Kuala Lumpur.

Dengan kekuatan 105 atlet (65 atlet putra dan 40 atlet putri) yang turun pada 14 cabang olahraga, KOI menargetkan peringkat lima besar. Target itu jauh diturunkan dari hasil ISG 2013 sebagai juara umum. Tapi, tampaknya target yang sudah diturunkan ketimbang dua tahun lalu itupun bakal sulit terpenuhi.

Faktanya hingga perhelatan ISG tinggal satu hari lagi, Indonesia baru mengumpulkan enam medali emas, 29 perak, dan 20B perunggu. Bahrain yang ada di urutan kelima sudah mengoleksi 12 medali emas, lima perak, dan empat perunggu.

"Kami turut prihatin dengan tidak tercapainya target. Tapi saya, walau hanya sehari di sana, sudah melihat bagaimana para atlet sudah memperjuangkan diri di sana,"kata Sekretaris Menpora Gatot S. Dewa Broto dalam sambungan telepon dengan detikSport pada Minggu (21/5/2017).

"Meski yang diturunkan di ISG dan SEA Games beda-beda tipis, dan pesertanya pun beda. Tapi at least ini semacam lampu kuning, warning, bagi atlet Indonesia, Satlak Prima, dan PB-PB cabor agar ada evaluasi khusus terkait dengan ISG ini," tambahnya.

Usai ISG, Gatot berencana untuk mengevaluasi secara total seluruh pihak. Selain Chef de Mission (CdM), Kemenpora akan meminta laporan dari Satlak Prima dan Pengurus Besar (PB) cabang olahraga terkait kendala-kendala yang dihadapi.

"Tentu saja kami akan lihat catatan negatifnya bukan positifnya. Makanya sepulang dari sana kami akan meminta laporan khusus dari Chef de Missio, Satlak Prima, PB cabor, apa yang menjadi kendala. Apakah misalnya jujur saja karena finansial seperti keterlambatan kucuran anggaran, atau karena ISG hanya ujicoba sehingga tidak tampil full dan sebagainya. Kami mengukur lah. Jangan-jangan Kemenpora ikut berkontribusi atas tidak maksimalnya prestasi yang atlet peroleh," katanya.

Setelah ISG, Indonesia akan mempersiapkan diri menuju SEA Games 2017 di Malaysia dan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. Menyoal itu, Gatot masih optimistis Indonesia bisa lebih berbicara. Hanya memang perlu ada pembenahan secara cepat selepas ISG.

"Kami masih yakin ya meskipun taruhannya publik pasti akan menilai ibaratnya bagaimana mungkin Indonesia akan masuk 10 besar tapi ISG saja jauh dari harapan. Karena dari juara umum (ISG 2013) ke peringkat delapan itu jauh sekali. Untuk itu akan ada evaluasi agar multievent berikutnya bisa lebih baik lagi," imbuh dia.


(mcy/fem)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed