Dewan Olimpiade Asia (OCA) meminta agar Indonesia menambah dua nomor pada cabang olahraga menembak. Yakni, double trap dan shooting.
Usulan OCA itu sebagai konsekuensi tambahan dari permintaan penambahan nomor Asian Games 2018 kepada Presiden OCA, Sheikh Ahmad Al Fahad Al Sabah, tertanggal 9 Oktober 2017. Nomor-nomor baru yang diusulkan itu dari panahan, panjat tebing, dan taekwondo. Sembilan nomor itu sudah disetujui OCA yang kemudian juga menghapus sembilan nomor yang sudah lebih dulu dipertandingkan; dari cabang sambo satu nomor, kurash (1), BMX (2), tinju (3), karate (1), dan jujitsu (1)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Baca Juga: INASGOC dan OCA Hapus Sembilan Nomor Pertandingan Asian Games 2018]
"Kalau nggak ada peluang untuk Indonesia (dari dua nomor menembak itu) kenapa ditambah. Jangan terlalu banyak memberi toleransi (penambahan nomor)," kata Imam kepada pewarta di Senayan, Selasa (28/11/2017).
"Sebab, dengan toleransi itu, kami harus menyiapkan struktur. Mestinya, OCA memahami target Indonesia, sukses penyelenggaraan, prestasi, dan promosi ekonomi," dia menambahkan.
"Kita harus berani membantah, jangan diberikan semua, wong kita tuan rumah. Sekali ada toleransi nomro tertentu, akan ada konsekuensi menyiapkan venue. Padahal, anggaran 2018 sudah tutup. Saya tegaskan kepada OCA kalau cabang dan nomor event tidak boleh ditambah," tutur dia.
selain venue, konsekuensi penambahan nomor dikhawatirkan bakal memengaruhi perencanaan pelatnas. Sebab, program sudha harus digeber kencang paling lambat Januari.
"Kami harus segera menyiapkan pelatnas. Tidak mudah, per Januari nanti kami fokus kepada cabang olahraga unggulan ke nomor event dan cabor unggulan," ujar Imam.
"Nomor dan cabang andalannya apa saja, saya tunggu laporan INASGOC," dia mengucapkan.
(fem/cas)











































