detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Senin, 29 Jan 2018 14:03 WIB

Jalan Berlubang dan Komunikasi Jadi Catatan Tour de Indonesia 2018

Femi Diah - detikSport
Salah satu etape di Tour de Indonesia 2018 (Foto: Rengga Sancaya) Salah satu etape di Tour de Indonesia 2018 (Foto: Rengga Sancaya)
Denpasar - Tuntas sudah perhelatan Tour de Indonesia (TdI) 2018. Ada sejumlah catatan untuk panitia pelaksana sepanjang jalannya perhelatan tersebut.

TdI tahun ini memiliki keistimewaan tersendiri. Selain jadi momentum setelah vakum selama enam tahun, TdI juga naik kelas menjadi ajang balap sepeda road race dengan grande 2.1 UCI.

Digelar dalam empat etape, 25-28 Januari, TdI 2018 kini sudah memunculkan juara. Adalah Ariya Phounsavath yang menguasai purple jersey, tanda sebagai pebalap terbaik.

Tapi TdI 2018 juga bukannya tak punya cacat. Ajang balap sepeda jalan raya itu disarankan mampu menunjukkan kualitas seperti balapan 2.1 yang sebenarnya.

"Hotelnya bagus, makanannya enak, tidak ada komplain soal itu. Tapi, jalanan ada yang buruk, bergelombang," kata pebalap Laos yang bergabung dengan Thailand Continental Cycling Team, Ariya.

Catatan lain juga datang dari Race Director Sondi Sampurno. Dia mengakui TdI masih menyimpan kekurangan jika dibandingkan dengan balapan dengan grade serupa di negara lain.

"Tour de Indonesia ini sukses dari segi publikasi, pelaksanaan, dan keamanan. Tidak ada kecelakaan yang berbahaya. Pebalap Timnas Eritrea yang masuk rumah sakit (di etape ketiga) memang tidak bisa balapan lagi, namun kondisinya sudah membaik. Dia bisa pulang bersama-sama rekan satu tim ke negaranya," kata Sondi, Minggu (28/1).

"Yang lain-lainnya, jika dibandingkan dengan balapan 2.1 di negara lain, Tour de Indonesia ini masih kalah rapi. Pagarnya lebih banyak, parkirnya lebih rapi. Koordinasi antara bagian juga lebih sip. Komunikasi di sini belum berjalan dengan baik."

"Selain itu, jadwal tur negara lain juga tertata sangat rapi. Sejak pebalap bangun, bersiap, dan menuju race, atau kalau ada sampai detail mereka ke pelabuhan dan naik feri. Kami masih ada keterlambatan 30 menit karena koordinasi antara pengantaran dengan tim race belum berjalan dengan baik," tutur Sondi.

Dia mengakui sebagian jalanan yang bergelombang cukup mengganggu. Sebab, kecepatan rombongan sangat tinggi. Di samping itu, penutupan jalan juga masih kurang sempurna.

Dari catatan tim media, panitia pelaksana tak menyediakan radio tur di dalam kendaraan. Live streaming yang menajdi terobosan Tour de Indonesia juga bisu alias tanpa komentator sehingga informasi tak sepenuhnya sampai kepada penonton. Perbaikan sudah dilakukan pada etape keempat dengan sudah adanya komentator.

Sebagian besar tim peserta juga berharap agar Tour de Indonesia menambah jumlah etape tahun depan. Selain itu, mereka berharap agar undangan tak terlalu mepet.



(fem/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed