detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Selasa, 19 Feb 2019 18:59 WIB

Calonkan Diri Jadi Tuan Rumah Olimpiade 2032, Indonesia Seberapa Siap?

Mercy Raya - detikSport
Indonesia resmi mencalonkan diri jadi tuan rumah Olimpiade 2032. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan) Indonesia resmi mencalonkan diri jadi tuan rumah Olimpiade 2032. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)
Jakarta - Indonesia secara resmi mencalonkan diri jadi tuan rumah Olimpiade 2032. Tapi perlu ada persiapan serius dan perbaikan di berbagai sektor.

Indonesia resmi mengajukan diri menjadi host Olimpiade 2032, dengan menyerahkan surat Presiden RI Joko Widodo kepada Presiden International Olympic Committee (IOC) Thomas Bach, di Sekretariat IOC, Lausanne, Swiss, pada Senin (11/2/2019).

Melalui Dubes RI di Bern, Muliaman D Hadadenin, Indonesia menyatakan kesiapannya. Federasi-federasi olahraga olahraga menyambut baik pengajuan tersebut.




Tapi Indonesia diminta segera berbenah kendati punya pengalaman menggelar multievent selevel Asia. Sebab level Olimpiade benar-benar berbeda.

"Ya pasti harus bekerja keras karena bagaimanapun Asian Games berbeda dengan Olimpiade. Bisa dilihat dari jumlah pesertanya saja, jauh lebih besar Olimpiade. Baik kesiapan secara penyelenggaraan, pertandingan, dan kesiapan infrastruktur, maupun Sumber Daya Manusia (SDM)," kata Sekretaris Jenderal PB PASI, Tigor Tanjung, kepada detikSport, Selasa (18/2/2019).

"Tapi kalau pemerintah sudah mengajukan pencalonan kepada IOC mestinya kita sudah memperhitungkan itu untuk 12 tahun yang akan datang," ujarnya kemudian.

Tigor mengungkapkan bahwa penentuan tuan rumah Olimpiade biasanya dilakukan delapan tahun sebelum penyelenggaraan. Itu artinya, siapa tuan rumahnya seharusnya akan diambil pada 2024.




"Itu kan waktu yang singkat. Tapi kota apa yang diusulkan kan kita juga tidak tahu. Tapi yang jelas akan ada bidding dan yang memilih anggota IOC. Itu artinya, selain harus punya kemampuan pemasaran, kita juga harus memiliki kemampuan melobi anggota-anggota IOC itu (supaya bisa menang)," tuturnya.

"Saya pernah dengar Korea bersatu berminat, jika benar mencalonkan diri juga, ini pasti sangat berat bersaing. Karena mereka dari sisi infratruktur, SDM, teknologi, beberapa langkah di depan kita."

"Lalu kota yang kita usulkan menentukan. Apakah Jakarta? Jika dengan kondisi Asian Games tahun lalu, saya rasa kurang. Ya, akomodasi harus dibangun lagi. Kan Kemayoran katanya mau jadi sewa. Atau apakah Bali? Tapi harus dibangun juga. Tapi tidak harus 2024 selesai dibangun, kita cukup membuat proposal," dia menjelaskan," imbuh Tigor.

Aspek lain yang perlu dibenahi adalah birokrasi, yang saat ini dinilai masih terlalu rumit dan berbelit-belit. Selain itu mentalitas mesti diubah karena persiapan tak bisa mepet-mepet atau sistem kebut.

"Saya rasa kalau Olimpiade kita tak bisa main-main seperti itu. Apalagi ditentukan 2024. Kalau kita misalnya terpilih harusnya kita punya waktu panjang 8 tahun. Jangan disia-siakan waktu itu harus dipersiapkan dengan baik dan dilaksanakan," kata Tigor.




"Dan secara politis negara juga harus mendukung, seperti pengalaman kita mau menjadi tuan rumah SEA Games, Asian Games, atau apapun, biasanya terkendala dengan birokrasi, kebijakan-kebijakan keuangan, itu yang tidak boleh terjadi. Harusnya dibuat lebih sederhana."

"Sebab, menjadi tuan rumah Olimpiade bukan pekerjaan semudah Asian Games. PR-nya banyak tapi bukan tidak mungkin. Tapi ini kan kontes, kalau Asian Games kan kita seperti hibah. Kalau Olimpiade pasti banyak negara yang serius."

"Belum lagi kita harus menyiapkan kontingennya, itu harus direncanakan dengan baik. Harus banyak yang diloloskan karena pakai kualifikasi. Sekalipun jadi tuan rumah lantas mendapat keistimewaan," tegas dia. (mcy/raw)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com