detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Sabtu, 13 Apr 2019 00:12 WIB

Eni Nuraini Seperti Ibu untuk Suryo Agung

Mercy Raya - detikSport
Bagi Suryo Agung, Eni Nuraini sudah seperti ibu sendiri (Mercy Raya/detikSport) Bagi Suryo Agung, Eni Nuraini sudah seperti ibu sendiri (Mercy Raya/detikSport)
Jakarta - Suryo Agung punya kesan khusus terhadap mantan pelatihnya Eni Nuraini. Dia bilang, Eni sudah seperti ibu kandungnya saat berada di lintasan.

Suryo meraih hasil gemilang saat SEA Games 2009. Dia berhasil mempertahankan dua medali emas di edisi SEA Games sebelumnya. Selain emas, Suryo juga mencatatkan rekor baru sebagai pelari jarak pendek tercepat dengan catatan waktu 10,17 detik. Sampai kini rekor tersebut belum dipecahkan dan Suryo masih jadi manusia tercepat di ASEAN.

Di balik prestasi oke tersebut, sosok Eni memiliki peran besar dalam kehidupan karirnya sebagai atlet. Suryo yang saat itu ditinggal mundur pelatihnya Didik Jafar dan Jojon pada 2006, kemudian diambil alih Eni Nuraini pada 2007.




"Sebenarnya semua pelatih hampir memiliki peran dalam karir prestasi saya. Semua kan ada masanya. Tapi memang saat dengan Ibu Eni, usia saya pas lagi usia emasnya, targetnya juga, usia biologisku juga sudah matang, usia latihan saya juga matang, jadi ketemu Ibu Eni yang sosok ibu banget, saya bisa nyaman segala macam," kata Suryo kepada detikSport di Kantor Kemenpora, Jumat (12/4/2019).

"Saya juga melihatnya lebih keyakinan (terhadap Ibu Eni). Yakin dalam arti komunikasinya bagus. Ibu Eni memang seorang pelatih dan bisa menjadi sosok ibu. Istilahnya ibu kandung di rumah, di sini itu (di lintasan) benar-benar ada sosok pelatih yang dia bisa menjadi sosok ibu dan benar-benar tahu sosok kita, tahu anaknya seperti apa," sambungnya.

"Di situlah rasa nyaman muncul, lebih pede lagi, lebih yakin lagi, cara komunikasi kami juga dua arah as a coach, as a mother, juga. Jadi ngeklik saja. Tujuan kita kemana nih. Saya ke sini bu. Dan Alhamdullilah waktu dilatih ibu targetnya tercapai," paparnya.




"Seperti saat itu target selanjutnya setelah 10, 25 detik (inginnya) bisa 10, 20 detik tapi Alhamdulillah justru melewati, catatannya 10,17 detik. (Artinya) kalau kita sudah yakin (memang) istilahnya enak saja. Bukan terlalu percaya diri tapi kami matang dalam persiapan teknik dan nonteknis," dia menjelaskan.

Buah peran kerja keras Eni menciptakan atlet memang tak sia-sia. Berkarir 30 tahun sebagai pelatih atletik dibayar lunas dengan gelar pelatih terbaik se-Asia oleh Asosiasi Atletik Asia (AAA). Suryo pun menaruh harapan besar kepada pelatih berusia 72 tahun tersebut.

"Harapan saya sih ya sekarang tinggal ibu. Harapan saya tugas ibu membuat ibu Eni, ibu Eni lainnya. Logikannya satu ibu Eni bisa cetak banyak atlet yang bagus-bagus, kalau ada lima ibu Eni maka bisa menciptakan lima kali lipat atlet-atlet yang bagus," demikian dia.

(mcy/mrp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com