detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Kamis, 10 Sep 2020 07:17 WIB

Menpora Bicara Peran Sport Science untuk Tingkatkan Prestasi Olahraga

Abu Ubaidillah - detikSport
Menpora Zainudin Amali Foto: Fuad Hasim
Jakarta -

Indonesia merupakan negara peraih gelar juara umum SEA Games terbanyak kedua dengan 10 gelar, hanya tertinggal dari Thailand yang meraih 13 gelar juara umum. Namun dalam dua edisi terakhir, Indonesia justru hanya meraih peringkat ke-5 (2017) dan ke-4 (2019).

Merosotnya prestasi olahraga Indonesia juga diakui oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali. Zainudin juga menyebut SEA Games 2017 menjadi prestasi terburuk Indonesia sepanjang penyelenggaraan ajang paling akbar se-Asia Tenggara ini.

"Padahal dulunya, negara-negara yang tadinya itu hanya berguru berlatih dengan kita dia ada di belakang, sekarang ini dia sudah sama dengan kita bahkan ada di depan, nah itu akhirnya kita mencari tahu kenapa, salah satunya adalah kita tertinggal dari penerapan sport science. Negara-negara yang lain itu sudah menerapkan sport science," ujar Zainudin seperti dikutip dari 20detik, Rabu (9/9/2020).

Zainudin mengatakan sport science sebenarnya sudah ada sejak tahun 80-an, namun implementasinya belum maksimal. Apalagi di tahun-tahun tersebut Indonesia masih belum memiliki banyak pesaing di bidang olahraga.

"Vietnam misalnya masih Perang Vietnam. Sekarang sudah bangun kembali dan sekarang mereka sudah ada di depan kita, ini luar biasa," terangnya.

Ia tak mau menyinggung soal negara-negara Asia Timur seperti China, Jepang, dan Korea yang telah lama menerapkan sport science. Prestasi mereka pun sudah jauh di atas Indonesia.

"Atas kesadaran itulah saya ngobrol sama teman-teman ini kita harus mulai walaupun tahun 80-an sudah ada tapi implementasinya kita nggak serius, sekarang mumpung ini Haornas, kita seriusi," tegasnya.

Menurut Zainudin, hanya dengan cara ini prestasi olahraga Indonesia bisa meningkat. Sebab, dengan sport science ukuran-ukuran yang diperlukan bisa diperoleh dengan pasti. Misalnya kemampuan menghirup oksigen maksimal (VO2max), denyut nadi, tekanan darah, nutrisi yang harus masuk, kecepatan kaki kanan dan kiri, dan sebagainya.

"Tanpa itu kita hanya mengira-ngira," imbuhnya.

Zainudin juga mengatakan saat ini Indonesia tak bisa hanya mengandalkan bakat alam yang dimiliki anak-anak Indonesia saja.

"Bisa jadi kita menemukan ada satu anak yang berbakat tetapi dia karena didapatkan dari ketemu saja, setelah itu lapisan di bawahnya nggak ada jadi kita nggak desain dengan bagus," jelasnya.

Menurutnya, prestasi harus didesain dan cara mendesainnya adalah dengan pendampingan dalam sport science. Kemudian soal olahraga mana yang akan menerapkan sport science pada Haornas 2020, Zainudin mengatakan tak bisa menerapkan pada semua cabang karena kemampuan masih terbatas.

"Kami akan melakukan seleksi terhadap mana olahraga-olahraga berprestasi yang akan kita dorong khususnya untuk olimpiade, kan prestasi olahraga itu ukurannya olimpiade. SEA Games, Asian Games adalah loncatan kita ke arah olimpiade maka kita harus pilih tidak bisa semuanya kita dorong dengan sport science," pungkasnya.

(akn/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com