detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 02 Des 2020 15:57 WIB

Tatap Olimpiade, Lalu Zohri dkk Punya Kendala Venue Latihan

Mercy Raya - detikSport
Lalu Muhammad Zohri adalah pelari asal Indonesia. Dia berhasil meraih medali emas dan menjadi juara dunia pada Kejuaraan Dunia Atletik Junior 2018 yang berlangsung di Tampere, Finlandia. Pelatnas atletik terkendala lapangan menuju Olimpiade 2020. (Foto: detikcom/Agung Pambudhy)
Jakarta -

Lalu Muhammad Zohri dkk sejauh ini masih terus menggenjot persiapan menuju Olimpiade Tokyo meskipun ada kendala soal penggunaan venue latihan.

Pelatnas atletik sudah dimulai sejak 11 Agustus lalu di Stadion Madya, Gelora Bung Karno. Tapi pada pertengahan November lalu, mereka harus berbagi lapangan karena cabor sepakbola menggunakan venue yang sama.

Adalah Timnas Indonesia U-19 yang memulai training camp di lapangan pada 16 November. Alhasil, atletik pun terpinggirkan dan terpaksa menggunakan lapangan ke area belakang Stadion Madya.

"Latihan tetap dilakukan. Kami masih menjaga kondisi dan persiapan untuk mengikuti kejuaraan atletik dan Olimpiade pada tahun depan. Cuma kendalanya sekarang tempat latihan kami dipakai sepakbola training camp. Jadi kami tersingkir pakai lapangan yang di belakang," kata pelatih atletik nasional Eni Nuraini kepada detikSport, Rabu (2/12/2020).

Menurut pelatih terbaik Asia 2019 ini, pembagian lapangan ini membuat timnya tidak maksimal dalam menjalankan latihan. Pasalnya, dari sisi waktu latihan sepakbola dan atletik sama sehingga sulit mengatur waktu.

"Mereka pakai dua kali, pagi dan sore. Jamnya sama dengan atletik. Mulai pukul 07.00 WIB sampai 8.30 WIB. Sore juga begitu pukul 15.00 WIB. Masa kita harus latihan pukul 14.00 WIB siang untuk bisa menggunakan lintasan di depan," kata Eny.

Padahal menilik dari kebutuhan, atletik lebih membutuhkan lintasan berstandar internasional tersebut untuk mendapat catatan waktu terbaik.

"Yang di belakang cuma ada 6 lintasan lurus, tikungan yang keliling empat lintasan dan tikungannya pun lebih lonjong, jadi tidak bertaraf internasional. Tikungan seperti itu berbahaya kalau mau lari cepat bisa bablas karena sudutnya terlalu tajam," dia menjelaskan.

"Lalu kalau semua latihan di sana, ada gawang, ada nomor lain bagaimana, bagi-bagi tempatnya bagaimana. Tetap tidak proper buat latihan anak-anak," dia menjelaskan.

"Sejauh ini kami antisipasinya jam latihannya dimundurkan. Seperti kemarin, kami latihan pagi tapi karena kami perlu tikungan, jadi baru keluar ke lapangan depan pukul 09.00 WIB sampai 11.00 WIB. Itu biasanya kami lakukan kalau sedang tes," Eni mengungkapkan.

Kejadian berbagi lapangan sejatinya sudah pernah terjadi oleh atletik pada tahun lalu. Saat itu mereka harus berbagi lapangan dengan klub Liga 1, Bhayangkara FC.

Stadion yang identik sebagai markas pelatnas atletik itu digunakan The Guardian sebagai homebase sementara Liga 1 karena stadion PTIK tengah direnovasi.

(mcy/cas)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com