Kompetisi Proliga 2021 Belum Pasti Digelar

Mercy Raya - Sport
Kamis, 03 Des 2020 17:15 WIB
Lamongan Sadang MHS vs Jakarta Garuda
Ilustrasi Proliga (detikSport/Arbi Anugrah)
Jakarta -

Kompetisi bola voli Proliga 2021 belum bisa dipastikan bergulir Januari mendatang. Panitia penyelenggara memutuskan menundanya hingga waktu yang tidak diketahui.

Proliga semula akan berlangsung di Sentul mulai 31 Januari hingga 28 Februari. Tapi melihat pandemi Corona yang belum juga reda, Direktur Proliga, Hanny S. Surkatty, memutuskan untuk memundurkan kompetisi bola voli nasional tersebut.

"Jadi setelah mendapat masukan akhirnya kami putuskan kompetisi dimundurkan sampai waktu belum diketahui," kata Hanny kepada detikSport, Kamis (3/12/2020).

Hanny tak ingin berspekulasi soal waktu kapan ajang itu bisa digelar karena pemerintah juga belum tentu memberikan izin. Belajar dari pengalaman liga sepakbola dan bola basket yang tak jadi dilanjutkan empat hari menjelang kick off, ia tak ingin kejadian tersebut terulang kepada voli.

Selain itu, protokol kesehatan yang ketat menjadi tantangan tersendiri buat Panpel ketika menggelar kegiatan tersebut.

"Pastinya kan tidak boleh ada kerumunan, tidak boleh ada body contact, sementara di cabang voli pasti bola saja bergantian orang, lalu kalau saya tak salah satu kamar itu harus satu atlet tak boleh dua atau berapa orang," dia menjelaskan.

"Kita saja tanpa penonton bisa 300 orang. Itu berisi atlet, pelatih, ofisial, dan panpel. Selain itu, soal tes swab yang hari ini negatif, besok bisa positif, harus berapa kali tes dengan harga minimal Rp 1 juta. Sementara kalau ada satu saja yang kena pasti kompetisi dihentikan. Ya saya realistis saja."

Hal itu pula yang membuat Hanny belum bisa memastikan kapan waktu yang tepat, termasuk potensi tidak adanya Proliga musim depan.

"Jangan berspekulasi. Kalau vaksin bagus bisa (bergulir), tapi kalau ternyata vaksinnya belum menunjukkan hasil berarti ditunda lagi. Yang penting kesehatan dan keselamatan atlet dan semua," ujarnya.

"Pertandingan bisa kita buat kapan pun, kalau kesehatan kan bila ada yang sampai kena lalu meninggal, daripada memaksakan itu jadi beban tersendiri," dia mengungkapkan.

"Kita harus melihat makro. Jangan melihat volinya saja, tapi melihat kepentingan si pemain punya keluarga, wasit punya keluarga, dan berumur, daripada di voli ikut kemudian kena (Corona), dan meninggal. Saya berpikirnya itu saja, karena ini yang dilawan tak kelihatan," dia menegaskan

(mcy/aff)