Doha dan Riyadh Saingan Gelar Asian Games 2030, Indonesia Pilih Siapa?

Mercy Raya - Sport
Selasa, 15 Des 2020 18:11 WIB
GBK sebagai venue penutupan Asian Games 2018 tampil beda malam ini. Tata cahaya dan lampu warn-warni semakin membuat suguhan visual yang dramatis dan indah.
Ilustrasi closing Asian Games 2018 di Indonesia. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Tuan rumah Asian Games 2030 akan segera ditentukan. Indonesia, melalui Komite Olimpiade Indonesia (KOI), hadir untuk memberikan suaranya. Siapa yang akan dipilih?

Doha dan Riyadh bersaing ketat menjadi tuan rumah Asian Games 2030 dan hasilnya akan ditentukan dalam OCA General Assembly ke-39 pada Rabu (16/12) di Muscat, Oman.

Olympic Council of Asia (OCA) telah melakukan inspeksi terhadap kedua kota dan menyatakan keduanya sangat siap untuk menjadi tuan rumah. Doha sudah pernah menyelenggarakan pesta olahraga multievent terbesar Asia empat tahunan tersebut pada 2006, sementara Riyadh belum pernah sama sekali.

Kedua kandidat tuan rumah juga sudah melakukan pendekatan intensif dengan negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari mengatakan, kehadiran Indonesia disambut antusias karena keberhasilan Indonesia menggelar Asian Games dan Asian Para Games 2018. Selain itu, suara Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya diklaim cukup signifikan.

Meski begitu, Okto, panggilan karib Raja Sapta Oktohari, berharap kondisi persaingan tetap berjalan baik hingga pada pelaksanaan pemilihan.

"Kami tidak ingin ada situasi menang-kalah dalam pertemuan ini, melainkan situasi menang-menang. Karena itu, kami mendorong negara-negara lain agar mendukung kesepakatan agar jangan ada situasi menang-kalah supaya benua Asia tetap bersatu," kata Okto, dalam rilisnya.

Bukan tanpa alasan Okto mengatakan demikian. Menurutnya, kesempatan rapat umum Komite Olimpiade Asia ini harus dimanfaatkan untuk mempererat kerja sama di antara para National Olympic Committee (NOC) demi meningkatkan prestasi olahraga Asia secara keseluruhan dan tidak hanya terfokus pada pemilihan semata.

"Bagi kepengurusan kami, inilah pertama kalinya kami ambil bagian dalam kegiatan internasional. Kami memanfaatkan kesempatan ini bukan hanya untuk memberikan suara, tapi juga memperluas jejaring dengan federasi olahraga internasional demi peningkatan prestasi olahraga nasional," Okto mengungkapkan.

"Federasi olahraga internasional sangat komunikatif dan terbuka untuk kerja sama pelatihan dan peningkatan prestasi dengan Indonesia."

Tak hanya itu, KOI juga aktif melakukan komunikasi dengan semua pemangku kepentingan olahraga Asia demi peningkatan prestasi olahraga Indonesia. Termasuk salah satunya bertemu Duta Besar Indonesia untuk Kesultanan Oman, Mohamad Irzan Djohan, sebelum rapat digelar. Dalam pertemuan ini, Okto dan Dubes Irzan berdiskusi tentang peningkatan kerja sama peningkatan prestasi antara Indonesia dan Oman dan juga potensi bisnis, di industri olahraga dan sektor lainnya.

(mcy/krs)