Antisipasi Tim Angkat Besi RI agar Tak Senasib Tim All England

Mercy Raya - Sport
Senin, 29 Mar 2021 16:55 WIB
Angkat besi
Tim angkat besi sudah melakukan koodrinasi dengan KBRI menjelang berlaga di Kejuaraan Asia Angkat Besi. (Foto: detikFOTO/Grandyos Zafna)
Jakarta -

PB PABSI berkoordinasi dengan KBRI di Tashkent menyusul keikutsertaan di Kejuaraan Asia Angkat Besi di Uzbekistan. Kejadian tim bulutangkis di All England sebabnya.

Kejuaraan Asia Angkat Besi akan bergulir di Tashkent, 16-25 April mendatang. PABSI bakal mengirimkan kontingen dengan jumlah 13 orang, tujuh di antaranya ialah atlet.

Ajang ini merupakan bagian dari pengumpulan poin kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020. Mereka berencana terbang ke Tashkent pada 14 April dini hari.

Berkaca pengalaman bulutangkis yang sempat ditarik mundur karena sepesawat dengan penumpang terpapar COVID-19, tim angkat besi menyiapkan langkah antisipasi, salah satunya berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.

"Kami sudah berkomunikasi dengan KBRI di sana dan mendapat undangan dari panpel Kejuaraan Asia, intinya protokol kesehatan di sana tak seketat seperti di Inggris," kata Dirdja Wihardja, pelatih kepala tim angkat besi, kepada detikSport, Senin (29/3/2021).

"Tapi persoalan tes PCR itu memang harus dilakukan sebelum berangkat entah tanggal 12 atau 13 April. Nanti setiba di sana, kami sudah menyewa travel untuk mengawal kami dari mulai transit, ketibaan, sampai hotel. Sebab, sampai di Uzbekistan kami masih ada tes kesehatan lagi apakah itu tes PCR atau swab antigen," dia menjelaskan.

Menukil regulasi AWF Weighlifting Championship Tashkent 2020 dijelaskan bahwa prosedur pandemi COVID-19 dan persyaratan, setiap orang yang tiba di bandara internasional Tashkent, seseorang itu harus lulus tes cepat antigen untuk COVID-19 dengan biaya 15 USD per orang dan sebelum diberangkatkan ke Kejuaraan Asia Angkat Besi, setiap orang harus lulus tes PCR.

Meskipun tak terlalu ketat, Dirdja menegaskan, pihaknya tetap akan menerapkan protokol kesehatan sesuai aturan yang berlaku secara umum.

"Ya kami juga tak mau lengah meskipun di sana dikatakan kasusnya sudah turun dan dinilai sudah cukup aman, tapi prokes harus tetap dilakukan ketat. Kami koordinasi dengan KBRI di Tashkent, itu jadi usaha kami untuk antisipasi," katanya.

"Para atlet juga sudah diberikan edukasi oleh dokter tim di sini (mess Kwini) tentang menjaga kesehatan di masa COVID -19 begini. Jadi ketika nanti ada apa-apa kami sudah hubungi pihak kedubes di sana. Kami berkaca juga dengan bulutangkis."

Atlet angkat besi Indonesia dijadwalkan bertanding mulai 17 April. Soal itu, Dirdja menilai persiapan dua hari cukup untuk mengantisipasi hal teknis maupun nonteknis di Kejuaraan Asia Angkat Besi.

"Cukup. Makanya dari kemarin kami mau nyaman makanya pakai travel untuk mengawal prokesnya. Karena kalau transit gitu, kita saja yang orang biasa suka keluyuran, nah ini atlet bagaimana. Saya juga sempat hubungi pelatih bulutangkis Eng Hian dan kami sharing. Kami sudah sering ke Uzbekistan tapi kan di masa pandemi ini belum pernah. Yang jelas jangan sampai kejadian kayak bulutangkis," dia menegaskan.

Simak juga 'Saat Angkat Besi Kembali Sumbang Emas SEA Games 2019':

[Gambas:Video 20detik]



(mcy/cas)