Atlet Indonesia Dikarantina 5 Hari sebelum ke Olimpiade Tokyo 2020

Mohammad Resha Pratama - Sport
Minggu, 11 Jul 2021 21:45 WIB
CDM Indonesia di Olimpiade 2020 Roeslan Rosani memberlakukan protokol ketat untuk para atlet sebelum ke Tokyo
CDM Indonesia di Olimpiade 2020 Rosan Roeslani (Istimewa)
Jakarta -

Protokol kesehatan ketat diberlakukan KOI untuk para Olimpian Indonesia sebelum berangkat ke Olimpiade Tokyo 2020. Semua atlet dan ofisial dikarantina lima hari dulu.

Adalah Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari yang menegaskan bahwa karantina dilakukan karena adanya PPKM Darurat, yang diberlakukan pemerintah menyusul tingginya kasus Covid-19 di Pulau Jawa-Bali.

Maka dari itu, seluruh atlet, pelatih, dan ofisial dari tujuh cabang olahraga akan dikarantina lima sebelum keberangkatan ke Tokyo, sebagai langkah mitigasi Covid-19.

Empat cabor yakni angkat besi, panahan, atletik, renang akan difokuskan di Jakarta. Sementara rowing di Pengalengan, serta surfing di Bali. Sebagai informasi, Indonesia memberangkatkan 28+1 alternated athlete dari delapan cabor ke Olimpiade 2020.

Terkhusus 11 atlet bulutangkis saat ini sudah berada di Kumamoto, Jepang, akhir pekan ini untuk menjalani pre-games training.

"Renang, angkat besi, dan panahan akan kami karantina di Hotel Fairmont mulai Selasa (13/07). Untuk rowing dan surfing karena posisinya di luar Jakarta, kami akan mengirim standar karantina mandiri yang harus dipatuhi hingga keberangkatan ke Jepang. Sedangkan atletik baru masuk karantina pada 20 Juli karena mereka baru dijadwalkan berangkat pada 24 Juli," kata Okto dalam rilis kepada detikSport.

Dalam karantina nanti, NOC Indonesia dan CdM tetap berupaya mengakomodir kebutuhan atlet untuk berlatih. Latihan akan menerapkan sistem bubble, yakni setiap atlet akan diantar ke sentra latihan masing-masing cabor dengan pengawasan tim support dari NOC Indonesia yang juga dikarantina.

"Kami memproteksi semua yang terlibat, sehingga kami juga menyertakan tim pendukung untuk melakukan pengawasan superketat selama beraktivitas pada masa karantina, termasuk saat latihan. NOC Indonesia juga akan mengirim surat kepada PBSI agar mengetatkan prokes selama berada di Jepang," sambungnya.

Tepisah, CdM Rosan Roeslani memastikan semua yang masuk karantina dalam keadaan sehat dan bebas Covid-19. Sebelum masuk karantina, atlet wajib menjalani Swab PCR Test sebanyak dua kali dan mendapat hasil negatif.

"Selama masa karantina, atlet juga wajib membatasi interaksi dengan atlet-atlet lainnya, baik di hotel atau saat di arena latihan. Semua juga wajib taat dan mengetatkan protokol kesehatan. Ini langkah preventif dari CdM dan NOC sebagai upaya meminimalkan risiko-risiko jika terjadi sesuatu," kata Rosan.

Selain itu, Rosan menjelaskan Kontingen Indonesia akan meningkatkan standar uji tes Covid-19 sebelum berangkat ke Tokyo. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, Indonesia masuk dalam kategori Grup I (negara dengan risiko tinggi) oleh pemerintah Jepang, sehingga TOCOG menerapkan aturan tes tujuh hari berturut-turut, di mana 96 jam dan 72 jam sebelum keberangkatan wajib Swab PCR Test.

"Syarat wajib TOCOG untuk Swab PCR Test itu pada hari ke-4 dan ke-3, sisanya bisa antigen. Namun, kami merasa harus meningkatkan proteksi untuk atlet-atlet kami sehingga kami memutuskan melakukan tes PCR selama tujuh hari berturut-turut jelang keberangkatan," demikian Rosan.

Prokes Ketat Karantina Pelatnas Olimpiade Tokyo 2020

1. Atlet, pelatih, dan official untuk Olimpiade 2020 Tokyo wajib menjalani karantina 5 hari jelang keberangkatan menuju Jepang.
2. Sebelum dikarantina, atlet, pelatih dan official telah menjalani Swab PCR Test sebanyak 2 kali dan dengan hasil negatif.
3. Selama masa karantina, atlet diwajibkan menaati protokol kesehatan 5M: Memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, mejauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi, termasuk dengan sesama atlet yang menjalani karantina.
4. Tidak diperkenankan berinteraksi dengan pihak di luar bubble system.
5. Mobilisasi dari hotel ke sentra pelatnas masing-masing cabang olahraga diawasi oleh Tim Support dari NOC Indonesia, di mana mereka yang terlibat juga telah dites PCR dan masuk dalam bubble system.
6. Meningkatkan uji tes sebelum keberangkatan: Swab PCR Test Harian wajib dilakukan selama 7 hari beruturut-turut jelang keberangkatan menuju Tokyo.

(mrp/ran)