Ratusan Atlet LGBTQ Ikut Serta dalam Olimpiade Tokyo 2020

Bayu Baskoro - Sport
Sabtu, 24 Jul 2021 09:15 WIB
TOKYO, JAPAN - JULY 23: The Olympic rings outside of the stadium prior to the Opening Ceremony of the Tokyo 2020 Olympic Games at Olympic Stadium on July 23, 2021 in Tokyo, Japan. (Photo by Matthias Hangst/Getty Images)
Olimpiade Tokyo 2020 diikuti ratusan atlet LGBTQ. (Foto: Getty Images/Matthias Hangst)
Tokyo -

Olimpiade Tokyo 2020 memberikan peluang kepada kelompok LGBTQ untuk berpartisipasi. Ada ratusan atlet LGBTQ yang ikut serta dalam pesta olahraga kali ini.

Pesta olahraga terbesar di dunia tahun ini, Olimpiade Tokyo, resmi dibuka pada Jumat (23/7/2021). Sebanyak 11.326 atlet dari 205 negara bertanding memperebutkan medali juara di tiap cabang.

Dari 11 ribu atlet yang bersaing di Olimpiade Tokyo 2020, 160 lebih di antaranya merupakan kelompok LGBTQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer). Jumlah tersebut adalah yang paling banyak ketimbang gelaran-gelaran sebelumnya.

Pada Olimpiade London 2012 hanya ada 23 atlet LGBTQ yang ikut berpartisipasi. Jumlah itumeningkat menjadi 56 dalam gelaran Olimpiade Rio de Janeiro empat tahun berikutnya.

Saat ini, setidaknya ada 25 negara yang mengirimkan atlet LGBTQ di Olimpiade Tokyo. Amerika Serikat menjadi kontingen yang paling banyak dengan 30 atlet,

Terbukanya kans atlet-atlet LGBTQ berpartisipasi di Olimpiade 2020 sejalan dengan semangat Piagam Olimpiade yang melarang segala bentuk diskriminasi. Para aktivis LGBTQ berharap ajang kali ini mampu meningkatkan kesadaran dan dukungan publik untuk isu-isu LGBTQ.

"Setiap atlet yang luar biasa dan bangga adalah suar bagi orang lain yang belum keluar, atau yang tidak yakin apakah mereka bisa menjadi diri mereka sendiri dan memainkan olahraga yang mereka sukai," kata Joanna Hoffman, direktur komunikasi di Athlete Ally, kelompok advokasi nirlaba yang berbasis di AS, dilansir dari TIME.

"Mungkin yang paling penting, [atlet LGBTQ] membantu mendorong tim dan liga-liga untuk melembagakan inklusivitas, sehingga atlet tahu bahwa mereka berada di lingkungan yang aman dan ramah di mana mereka bisa keluar dan di mana diskriminasi tidak ditoleransi," sambungnya.

Hoffman berharap para atlet LGBTQ dapat diterima luas oleh rekan setimnya di ruang ganti. Dia mengimbau supaya seluruh tim melarang penggunaan bahasa anti-LGBTQ, serta menyerukan toleransi untuk seluruh partisipan.

"Sangat penting bahwa tim dan liga mengadopsi kebijakan tanpa toleransi untuk bahasa anti-LGBTQ+, serta menanamkan pada pelatih dan pemain sejak awal bahwa kata-kata itu penting. Kita semua memiliki peran untuk dimainkan dalam memastikan bahwa olahraga benar-benar diterima oleh masyarakat," pungkasnya.



Simak Video "Kasus Baru Melonjak! Corona Varian Delta Hantui Olimpiade Tokyo"
[Gambas:Video 20detik]
(bay/pur)