E-Sport Akan Jadi Titik Berat di RUU SKN

Lucas Aditya - Sport
Selasa, 05 Okt 2021 18:20 WIB
Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda.
Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda menyebut RUU SKN harus menitikberatkan pada e-sport. (Foto: Azizah-detikcom)
Jakarta -

Perkembangan e-Sport di Indonesia cukup pesat. Hal itu juga diamati oleh para perumus Rancangan Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional (RUU SKN), akan menjadi titik berat pembahasan.

Dampak negatif dari e-sport yang diperhatikan oleh Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda. Dia menyampaikan dalam pembahasan di gedung DPR RI, Selasa (5/10/2021).

"Indonesia menjadi salah satu pasar terbesar game online di dunia. Fenomena ini harus dikanalisasi melalui pembinaan, kompetisi, hingga dukungan industri sehingga meminimalkan dampak negatif dan memperbesar potensi kemanfaatan yang bisa diraih," kata Huda dalam rilis yang diterima detikSport.

Saat ini belum ada regulasi di level undang-undang yang mengakomodasi fenomena e-Sport. Padahal berbagai turnamen dan kompetisi e-Sport marak diselenggarakan oleh berbagai asosiasi game online di Indonesia.

"Bahkan saat ini telah muncul beberapa klub e-Sport yang melakukan aktivitas kompetisi, pembinaan, hingga transfer pemain. Kami menerima informasi jika transfer pemain e-Sport tidak kalah nilainya atau bahkan lebih besar dibandingkan transfer pemain sepak bola di tanah air," kata Huda.

Dalam beberapa ajang multievent, lanjut Huda e-Sport juga telah ditetapkan sebagai cabang olahraga (Cabor) resmi yang dipertandingan. Sea Games 2019 di Filipina misalnya telah mempertandingkan e-Sport.

"Di Sea Games 2021 di Vietnam dan Asian Games 2022 di China, e-Sport juga akan menjadi cabor yang memperebutkan medali," katanya.

Oleh karena itu, Huda mengharapkan agar ada rencana yang jelas agar ada pengelolaan e-sport yang baik dari pembinaan sampai penyelenggaraan kompetisi.

"Pemerintah harus punya peta jalan yang jelas terkait pembinaan e-Sport di tanah air mulai dari level amatir hingga level professional. Pun juga di level daya dukung seperti penyelenggaraan kompetisi, pengaturan klub e-Sport, hingga pengelolaan sponsorship harus dikelola dengan baik," kata Huda.

"Kelembagaan pengelolaan e-Sport yang solid bisa menjadi salah satu kunci keberhasilan pengembangan e-Sport di tanah air. Sebaliknya jika proses pelembagaan pengelolaan e-Sport ini amburadul, maka bisa jadi kita hanya menjadi penonton dari berkembangnya cabor baru yang potensial baik secara ekonomi maupun prestasi," katanya.

Politikus PKB ini menegaskan, Indonesia jangan sampai hanya menjadi pasar dari maraknya game online di level global. Berdasarkan data tahun 2020, 68 persen revenue global mobile e-Sports berasal dari Asia dan Indonesia menjadi peringkat teratas di Asia Tenggara untuk mobile gamers. Dari data Newzoo, Indonesia menempati peringkat ke-17 untuk pendapatan dari industri game dengan total 1,084 juta dolar AS pada Januari 2019.

"Pengelolaan e-Sports secara serius juga akan menjadi kanal untuk meminimalkan dampak negatif game online. Anak-anak yang main game online akan punya visi jika mereka main tidak sekadar hobi tapi juga upaya mencetak prestasi," kata Huda menegaskan.



Simak Video "1.296 Sekolah Jadi Klaster Covid-19, Ketua Komisi X Ingin PTM Jalan Terus"
[Gambas:Video 20detik]
(cas/krs)