Dibangun Mahal-Mahal, Stadion Utama Riau Eks PON Jadi Lapak Tenda Ceper

Mercy Raya - Sport
Kamis, 07 Okt 2021 18:20 WIB
Stadion Utama Riau di Pekanbaru pernah menjadi tuan rumah Kualifikasi Piala Asia U-23 2013. Kini stadion berkapasitas 43 ribu penonton itu mati suri.
Stadion Utama Riau, warisan PON yang tidak terawat. (Foto: detikcom/Raja Adil Siregar)
Jakarta -

Pekan Olahraga Nasional (PON) selalu menyimpan pertanyaan tersendiri di akhir penyelenggaraan, khususnya nasib venue. Stadion Utama Riau Salah satunya.

Stadion Utama Riau merupakan salah satu venue yang berakhir miris. Dibangun dengan harga yang fantastis Rp 1,18 triliun, stadion bekas perhelatan PON 2012 itu berakhir menjadi lokasi lapak tenda ceper.

Stadion utama yang berlokasi di Kecamatan Bima Widya, Kota Pekanbaru itu kini tampak tidak terawat. Selain tampak pedagang, faktanya dinding-dinding sekitar pintu gerbang stadion banyak coretan, belum lagi sampah dan ilalang yang akhirnya tumbuh di lahan parkir karena kurang diurus.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Riau Bobi Rahmat membantah jika stadion peninggalan PON itu tidak dirawat. Buktinya, masih ada tim sepakbola yang menggunakan area tersebut.

"Stadion itu masih tetap dalam perawatan tapi memang karena COVID-19 kita fokus pemulihan itulah dulu," kata Bobi kepada pewarta, Kamis (7/10/2021).

"Ada tim sepakbola juga di sana latihan (jadi) di dalam stadion tetap fungsional. Tidak ada masalah karena semua kami rawat," dia menambahkan.

Namun begitu, ia mengakui jika ada beberapa fasilitas pendukung warisan PON yang tidak bisa dipertanggungjawabkan perawatannya. Hal ini tak lepas adanya kasus sengketa lahan.

"Untuk fasilitas pendukung, seperti yang selalu ramai, itu tenda ceper. Selalu kami awasi sama Satpol PP karena itu lahan sengketa. Ada gugatan dari orang yang mengaku pemilik tanah ke pemerintah, ya masih proses hukum," dia mengungkapkan.

Kasus itu pun membuat Pemprov Riau kesulitan untuk melakukan penertiban lokasi. Walau begitu, masyarakat diklaimnya masih menggunakan area tersebut untuk berolahraga pada sore hari.

Tenda ceper sendiri dikenal masyarakat sebagai fasilitas nongkrong dengan tenda tidak lebih dari 1,5 meter. Fasilitas itulah yang kemudian dijadikan lapak mesum.

"(Stadion) bukan hanya (jadi) semak tapi juga dijadikan tempat mesum," kata salah satu warga, Abdullah.

"Siapa yang tak kenal tenda ceper, sudah berulang kali juga dirazia sama Satpol PP. Tapi tak lama terulang lagi," imbuhnya.

Apa yang dialami Stadion Utama Riau menambah daftar panjang venue-venue bekas PON yang berakhir tragis. Sebelumnya, Stadion Palaran di Samarinda juga disebut minim pemanfaatan.

(mcy/cas)