Tes Sampel Urine Atlet PON Akan Diuji Doping di Qatar

Mercy Raya - Sport
Sabtu, 09 Okt 2021 20:15 WIB
Logo PON Papua
Foto: (Femi Diah/detikSport)
Jakarta -

Badan Antidoping Dunia (WADA) sudah memastikan gelaran PON Papua untuk terus berlanjut, di tengah ancaman sanksi buat Indonesia. Tes sampel urine atlet PON sendiri akan diuji doping di Qatar.

Diketahui, WADA sempat menyatakan Indonesia tidak patuh dalam menerapkan program pengujian yang efektif pada 2020 dan 2021. Hal itu memunculkan ancaman sanksi berupa pelarangan Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan olahraga baik regional, kontinental, maupun internasional selama penangguhan.

Namun, WADA sudah memberi surat klarifikasi, melalui Kemenpora, yang menyatakan bahwa PON yang sudah berlangsung tetap bisa jalan terus.

"Kami sudah dapatkan balasan dari WADA yang menyatakan untuk PON, Peparnas tahun ini, silakan kegiatan tetap berlangsung seperti biasa," kata Wakil Ketua Lembaga Antidoping Indonesia Rheza Maulana kepada detikSport, Sabtu (9/10/2020).

Begitupun untuk uji sampelnya tetap bisa dilakukan. "PON sudah dikirim dan disetujui WADA, tinggal pengerjaannya nanti kan ada tim Ad-Hoc dari PB PON, jadi LADI mensupervisi tim tadi. Jika mereka aneh-aneh bisa dapat teguran keras dan beberapa tim LADI ada yang ditempatkan di dalam tim itu, jadi kami saling sinergis."

Hanya saja, Rheza tidak bisa mengungkapkan detail berapa jumlah sampel dari PON yang akan diujikan nanti. Sebab, pengungkapan data testing itu dinilai merupakan salah satu bagian dari pelanggaran aturan WADA. Yang pasti, pengujiannya akan dilangsungkan di lab Qatar.

"Yang jelas kami sudah buatkan rencana testing sebelumnya dan sudah kami kirim ke WADA untuk disetujui mereka. Nanti dari rencana tersebut ketahuan dari cabor sekian, atlet sekian, dites tanggal sekian. Jadi kita ikuti tes tersebut lalu kami kirim ke Qatar dan tunggu hasilnya."

"Tapi saat ini kami masih cek ke Qatar karena MoU dengan mereka kemarin, ada klausul yang menyatakan akibat ada situasi pandemi, mereka menjanjikan sekian waktu. Saya belum bisa sebutkan sekarang karena MoU bersifat internal," kata Rheza menyoal kapan sampel bakal dikirimkan ke Qatar.

(mcy/krs)