Menpora Tegaskan Tak Pernah Remehkan Peringatan WADA

Muhammad Robbani - Sport
Senin, 18 Okt 2021 15:15 WIB
Jakarta -

Menpora Zainudin Amali menegaskan tak pernah meremehkan peringatan Badan Anti-Doping Dunia (WADA). Indonesia di-sanksi WADA yang berdampak di Piala Thomas 2020.

Tak ada bendera Merah-Putih saat Jonatan Christie Cs naik ke podium. Hal itu lantaran Indonesia kena sanksi World Anti-Doping Agency (WADA) melalui Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) imbas tak mengirim sampel tes doping plan (TDP) pada 2020 dan 2021.

Sebelumnya, WADA sudah memberikan peringatan sejak 15 September agar Indonesia mematuhi penegakkan standar anti-doping. Akhirnya sanksi pun dijatuhi WADA ke Indonesia pada 7 Oktober.

Nah, Menpora Amali dianggap sebagai salah satu yang paling bertanggung jawab atas jatuhnya sanksi WADA. Ia disebut terlalu meremehkan sampai akhirnya sanksi benar-benar membuat Indonesia terkena dampaknya sebagaimana terjadi pada Piala Thomas 2020.

"Dari informasi yang didapatkan dari LADI, kemudian saya sampaikan masalah ini bisa diatasi. Karena LADI sudah menyampaikan ke (WADA) Asia Pasifik. Menurut saya jalan ini klarifikasinya. Ternyata baru tadi dalam rapat (bersama NOC Indonesia dan LADI) ada hal-hal yang menjadi pending matters dari kepengurusan (LADI) lama yang cukup banyak dan transisinya tidak cepat," kata Amali saat memberikan keterangan pers, Senin (18/10/2021).

"Karena saya menerima informasi TDP sudah diperbaiki, ternyata memang sudah diperbaiki. Ini bukan menganggap remeh, tidak. Ini bukan hanya karena sampelnya pada 2021 tidak terpenuhi. Harusnya kalau sudah diklarifikasi, selesai. Ternyata ada pending matters lainnya," ucapnya.

"Kalau ini awalnya saya dapat informasi sudah clear tidak masalah, ternyata belum selesai. Yang diminta WADA juga urusan-urusan sebelumnya. Makanya sekarang kami bikin tim agar WADA segera mencabut sanksi kepada LADI," katanya lagi.

Zainudin Amali mencontohkan, pihaknya langsung bergerak dengan bekerjasama dengan Badan Anti-Doping Jepang (JADA) setelah surat peringatan WADA. Hal itu dilakukan untuk menghindari Indonesia dari sanksi.

Meski begitu, politikus Partai Golkar itu tetap meminta maaf. Sebab, euforia juara Piala Thomas 2020 sedikit berkurang lantaran tak ada Bendera Merah-Putih.

"Kita masih akan disupervisi oleh lembaga anti doping Jepang (JADA) untuk mempelajari ini semuanya dan berkomunikasi dengan berbagai pihak tertentu. Itu menjadi bagian dari akselerasi," ucap Amali.

"Saya sekaligus memperkuat apa yang disampaikan oleh LADI tentang permohonan maaf, saya juga mohon maaf atas kejadian yang membuat kita semua jadi tidak enak dan nyaman," tutur pria asal Gorontalo.

(aff/cas)