Yenny Wahid Targetkan RI Raih 2 Emas di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing

Mercy Raya - Sport
Jumat, 21 Jan 2022 14:10 WIB
Yenny Wahid hadir dalam diskusi Rabu Hijrah yang bertema Hijrah Menuju Indonesia Maju. Dalam diskusi itu Yenny Wahid bicara kondisi Indonesia saat ini.
Yenny Wahid. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

FPTI, melalui Yenny Wahid selaku ketua umum, menargetkan dua emas di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing 2022.

Seperti diketahui, Indonesia akan menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Panjat Tebing yang akan dihelat 24-26 September mendatang. Berbagai persiapan pun telah dilakukan termasuk menentukan lokasi tempat pertandingan, antara di Bali atau Manado. Selain kesiapan sebagai yang punya hajatan, FPTI juga berkeinginan meraih keberhasilan dari sisi prestasi.

"Ya, minimal dua emas dari nomor speed putra dan putri, tapi semoga bisa lebih," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) Yenny Wahid kepada pewarta.

Ia mengatakan target itu menyesuaikan dengan peta kekuatan Indonesia saat ini di nomor speed.

Bagaimana pun, Indonesia merupakan langganan juara dunia di berbagai kejuaraan. Sebut saja pemanjat putri Aries Susanti, kemudian atlet panjat tebing putra Veddriq Leonardo.

Ia bahkan berhasil memecahkan rekor dunia pada ajang IFSC Climbing World Cup pada tahun lalu. Rekor tersebut, bahkan sebelumnya dicatatkan rekannya, Kiromal Katibin.

Lantas bagaimana dengan nomor boulder dan lead? Yenny berfokus pada perbaikan peringkat.

"Untuk boulder dan lead memang masih banyak pembenahan yang harus dilakukan. Saya tak akan muluk-muluk ya, target kami lebih naik peringkatnya," kata Yenny.

Bukan tanpa alasan putri dari Presiden ke-4 Republik Indonesia Abdurrahman Wahid itu mengatakan demikian. Menurutnya, persoalan bukan hanya melibatkan atlet saja, tapi ketersediaan pembuat jalur berstandar internasional.

"Kemampuan mereka untuk menciptakan jalur-jalur yang berbeda dan ini butuh training dan waktu. Jadi sekarang kami dorong agar pembuat jalur kita bisa magang di luar negeri sebanyak-banyaknya," tuturnya.

Selain itu, kendala lain juga muncul lantaran banyak di antara pembuat jalur kesulitan bahasa. "Jadi program kami salah satunya adalah pemahaman bahasa. Ini sedang kami beri kursus bahasa Inggris karena banyak yang...bukan enggak lulus ya, tapi kualifikasinya turun karena kendala bahasa, sayang sekali, termasuk juri," dia menjelaskan.

"Dan karena untuk mengirim magang ke luar negeri dan banyaknya di kawasan Eropa, tentu secara pendanaan (jadi kendala) itu persoalan klasik lah di olahraga," ucap Yenny.

(mcy/krs)