Misi KOI Wujudkan Kesetaraan Gender di Olahraga

Tim Detikcom - Sport
Minggu, 24 Apr 2022 05:00 WIB
Greysia Polii/Apriyani Rahayu
Sukses Greysia/Apriyani diharapkan bisa memacu atlet wanita lain untuk berprestasi di level internasional (dok.KOI)
Jakarta -

Kesetaraan gender boleh dibilang masih jadi persoalan global, termasuk di Indonesia. Oleh karenanya Komite Olahraga Indonesia ingin terus mewujudkannya di Tanah Air.

Hal ini dikatakan Ketua Komisi Women in Sport (WINS) Komite Olahraga Indonesia (KOI) Susan Soebakti dalam rangka peringatan Hari Kartini 21 April lalu.

KOI sebagai induk olahraga Indonesia di level internasional punya kewajiban besar untuk terus menggalakkan kesetaraan gender tersebut. Sejauh ini, KOI menilai peran perempuan di olahraga Indonesia sudah lebih baik.

Contoh mudahnya adalah medali emas Olimpiade Tokyo 2022 disumbang Greysia Polii/Apriyani Rahayu dan merupakan kali pertamanya dalam sejarah, ganda putri Indonesia melakukannya di ajang tersebut.

Di level nasional, pada perhelatan Indonesia Basketball League 2022 lalu, Kartika Siti Aminah jadi pelatih wanita pertama yang ada di kompetisi itu. Kartini melatih Bima Perkasa Jogjakarta.

Meski demikian, hal itu dirasa belum cukup karena Susan menilai masih banyak potensi yang bisa digali dari para wanita yang berkecimpung di dunia olahraga. Dia ingin ke depannya lebih banyak lagi kaum hawa di sana.

NOC Indonesia / KOINOC Indonesia / KOI Foto: dok.NOC Indonesia

"Dalam memperingati hari Kartini ini kita ingin lebih banyak perempuan Indonesia bergerak dalam bidang olahraga. Bisa dari pelatih, atlet, wasit, administrator, atau manajemen olahraga," jelas Susan dalam webinar bertajuk The Bright Future Awaits, Sabtu (23/4/2022).

Untuk itu, Susan berharap penyelenggaraan acara ini perempuan olahraga di Indonesia bisa lebih memiliki motivasi untuk berkecimpung di olahraga. Terlebih, webinar ini khusus memangsa generasi milenial Gen-Z.

Selain melalui seminar, KOI juga telah melakukan langkah kongkret untuk mengenalkan perempuan ke dalam dunia yang didominasi kaum Adam. Salah satunya lewat pengenalan kegiatan olahraga. Namun dikarenakan pandemi COVID-19 dalam dua tahun terakhir, kegiatan tersebut terpaksa dialihkan lewat digital.

"Karena saat ini sedang pandemik, program kebanyakan webinar, tetapi di tahun kemarin, kita sempat melakukan senam atau aerobik, zumba, dan yoga lewat digital. Bilamana pandemik sudah hilang maka mulai kegiatan offline," sambungnya dalam rilis kepada detikSport.

"Ini kesulitannya, kita tidak bisa beraktifitas. Namun, satu hingga dua bulan jika keadaan semakin membaik dan tetap menjaga protokol kesehatan, semoga kami bisa menggelar acara offline, misal hari Minggu kita melakukan olahraga jalan pagi."