Tim Voli Indonesia Ditunggu 3 Agenda Besar usai SEA Games, tapi...

Mercy Raya - Sport
Senin, 23 Mei 2022 22:30 WIB
Pebola voli Indonesia meluapkan kegembiraan usai mendapatkan poin saat bertanding melawan tim bola voli putra Vietnam pada final bola voli putra SEA Games 2021 di Dai Yen Arena, Quang Ninh, Vietnam, Minggu (22/5/2022). Tim bola voli putra Indonesia berhasil mempersembahkan medali emas setelah mengalahkan Vietnam dengan skor 25-22, 25-18 dan 25-15. ANTARA FOTO/Arsakha/wpa/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/Arsakha
Jakarta -

Tim bola voli Indonesia sudah ditunggu sejumlah kompetisi usai SEA Games 2021 Vietnam. Tapi belum tentu jalan, kenapa?

Tim bola voli Indonesia baik putra dan putri berhasil merebut medali di multievent terakbar di Asia Tenggara yang berlangsung 12 -23 Mei ini. Tim putra berhasil menggondol emas, sementara tim putri merebut medali perunggu.

Prestasi kedua tim tersebut, khususnya putra pun mendapat apresiasi dari sejumlah pihak. Tak terkecuali pujian dari negara peserta seperti Thailand dan Kamboja. Hal itu disampaikan langsung oleh Manajer Tim Voli Indonesia, Loudry Maspaitella, saat ditanya program lanjutan untuk tim putra.

"Idealnya ada (kejuaraan lanjutan) cuma ini masalah COVID-19 pertama dan yang kedua masalah klasik pendanaan. Itu yang membuat kami tak berani jauh membuat perencanaan. Tapi idealnya tim ini seharusnya memang berlanjut," kata Loudry kepada detikSport, Senin (23/5/2022).

"Tanpa bermaksud terlalu percaya diri, ini komentar dari teman-teman negara lain seperti Kamboja, Thailand bilang, 'Kamu jangan bawa tim ini. Ini levelnya beda untuk SEA Games'. Dan saya juga bilang, 'kalau cuma emas SEA Games, itu dari zamannya saya, bagaimana merebut medali emas' dan itu bertahun-tahun diteruskan. Nah, seharusnya teman-teman sekarang berpikirnya Asia," dia menjelaskan.

"Jadi artinya kami berpikir Asia itu bukan karena ambisi buta tapi kami punya kompentensi dan anak-anak mampu. Ayo berpikir Asia, supaya setiap SEA Games sudah pasti emas lah, kalau levelnya Asia."

Loudry menjelaskan untuk agenda level Asia sendiri sebenarnya sudah ada di program kalendernya tahun ini. Di antaranya adalah Liga Asia dan Challenge Asia Cup 2022. Tapi sayangnya, dari keduanya Indonesia tak lolos kualifikasi ranking.

Sebagai catatan, untuk dapat bermain di Liga Asia, negara peserta harus memiliki ranking 8 besar Asia. Sedangkan level challenge harus masuk peringkat 16 besar.

"Masalahnya Indonesia di luar ranking 16 besar itu. Hal itu terjadi karena selama tiga tahun COVID-19, kami tak pernah ikut kejuaraan. Sementara negara lain tetap aktif. Nah, ketidakaktifan kami di dunia internasional selama 3 tahun berdampak pada ranking," Loudry mengungkapkan.

Voli Indonesia, sebut Loudry, jika punya komitmen dapat memanfaatkan kehadiran Rita Subowo, eks Ketua Komite Olimpiade Indonesia, yang juga Presiden Asian Volleyball Confederation (AVC) guna bernegosiasi untuk bisa tampil terutama di Challenge Asia Cup yang dimulai Agustus ini.

"Seharusnya bisa dilobi-lobi tapi yang penting PBVSI serius karena yang ditakutkan AVC, ini penyakit (voli) Indonesia dulu-dulu ya, bukan saya, jadi sudah daftar tapi begitu undian tidak datang (tak ada dana)," katanya.

Terlepas dari agenda-agenda level Asia itu, voli Indonesia sendiri sudah bersepakat dengan konfederasi Asia Tenggara untuk menggelar liga di level Asia Tenggara pada September mendatang.

Loudry menyebut sedikitnya ada empat negara yang sudah sepakat untuk menurunkan tim putra dan putrinya. Selain Indonesia, ada Vietnam, Thailand, dan Filipina. Tapi lagi-lagi, ia berharap hal itu bisa terlaksana dengan komitmen penuh dari induk organisasi voli Indonesia.

"Semoga bisa dijalani. Kalau saya bukan masalah SEA Games, saya terpatok pada opini orang. Saya menilai, mohon maaf tanpa bermaksud sombong, jangan salah paham ini memang level anak-anak jauh. Bisa dibilang generasi ini adalah terbaik yang dimiliki Indonesia," katanya.

"Makanya, saya berharap jangan sampai putus momentum ini. Jangan seperti Thailand sekarang. Bayangkan dari 2011, 2013, 2015, 2017 terus juara, begitu ganti langsung sekarang tak mendapat medali.

"Saya tak mau itu terjadi pada anak-anak ini. Makanya, kita harus punya pelapis karena tiga tahun kemudian anak-anak ini masih golden age semua. Itu tugas kita semua untuk menyiapkan itu," Loudry mempertegas.

(mcy/aff)