detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Minggu, 26 Mei 2019 14:40 WIB

Piala Sudirman Tak Pulang-pulang: 'PBSI Tak Banyak PR, asal Atletnya Juga Sadar'

Mercy Raya - detikSport
Trifu Piala Sudirman tak pulang-pulang ke Indonesia. (Wahyu Putro A/ANTARA Foto) Trifu Piala Sudirman tak pulang-pulang ke Indonesia. (Wahyu Putro A/ANTARA Foto)
Jakarta -
Legenda hidup bulutangkis Rudy Hartono menyebut Indonesia mempunyai segudang pekerjaan rumah menyusul kegagalan di Piala Sudirman 2019. Tugas berat pemain.

Indonesia lolos ke semifinal Piala Sudirman dengan perjuangan susah payah. Hendra Setiawan cs terpaksa bermain lima partai melawan Taiwan untuk bisa memastikan kemenangan tempat di babak empat besar.

Langkah tertatih-tatih ditunjukkan Skuat Merah Putih sejak babak penyisihan grup. Di fase itu, Indonesia menang mudah atas Inggris, namun kemudian dikalahkan Denmark dengan skor 2-3. Hingga kemudian, Hendra Cs tetap lolos ke perempatfinal sebagai juara grup karena unggul selisih kemenangan atas Denmark yang menjadi runner-up.


Tapi, ketika berhadapan dengan Jepang di semifinal, Indonesia tak berkutik. Dari head-to head kedua tim, Jepang, yang tampil sebagai unggulan pertama, memang dijagokan untuk menang.

Pada laga yang berlangsung Sabtu (25/5), Indonesia hanya mampu merebut satu poin dari nomor ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Sementara itu, tunggal putra Anthony Ginting, tunggal putri Gregoria Mariska, serta ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu takluk di tangan para pemain Jepang. Indonesia kalah 1-3 dan gagal melaju ke final.

Rudy mengatakan sejak awal dirinya tak yakin dengan komposisi Indonesia melawan Jepang. Apalagi, di sektor tunggal Indonesia masih banyak tertinggal.

Mantan pebulutangkis nasional Rudy Hartono Mantan pebulutangkis nasional Rudy Hartono Foto: Ari Saputra

"Untuk mengatrol itu ya tunggal putranya harus dilihat. Tunggal putra kita masih lebih menjanjikan dari tunggal putri. (Walau mengambil pelatih dari luar) enggak bakal bisa. Semua itu bukan (semata-mata) hanya pelatih," kata Rudy kepada detikSport, Minggu (26/5/2019).


"Orang Jepang beda. Gampang mengatrolnya. Hari ini programnya 10, satu bulan berikutnya 12, dua bulan berikutnya 14, naik terus. Indonesia naik sebentar, turunnya lebih jauh," dia menjelaskan.

"Orang juara itu mainnya luar biasa, tak perlu disuruh pelatih. Saya mau tanya, dulu saya juara All England tiga kali tak ada pelatih yang mendampingi. Saya berangkat sendiri, berlatih sendiri kok bisa," ujar pria berusia 69 tahun ini.

"Terus, pernyataannya sekarang, oh dulu lawannya tak kuat? Iya tak kuat. Tapi, sekarang dikasih apa-apa sama pelatih, masih tak bisa juara? Bukan masalah dulu lawannya enggak kuat, dulu enggak ada duit. Sekarang duit seabrek-abrek masih saja enggak bisa? Itu mikirnya ke mana." kata Rudy tegas.


Untuk itu, juara delapan kali All England ini menekankan perlunya kesadaran si atlet. Sementara, peran pelatih memberi dukungan dan mengingatkan hal-hal yang kurang.

"Jadi, harus ada kesadaran pada si atletnya. Nah, boleh pelatih membawa peran tapi perannya memberi semangat, menyadarkan ini kamu mainnya terlalu pelan, tadi main harus ada variasi, jangan kasih kesempatan lawan untuk lebih dulu menyerang kamu," ujar dia.

Sebagai contoh tunggal putra Jonatan Christie. Dia kalah menghadapi Chou Tien Chen (tunggal Taiwan) karena lebih dulu diserang. Padahal secara usia, peraih medali emas Asian Games 2018 itu mempunyai tenaga lebih besar.

"Buat apa ngikuti-ngikutin, diserang dulu sama lawan mati, out. Beda, kalau Jonatan lebih fit dan lebih berani menyerang karena apa? Dia mempunyai cadangan tenaga. Ya kalau begitu kekuatannya ditambah, daya tahan dan kecepatanya ditambah, diukur sampai kapan? Dua tahun lagi oke. Baru ada cadangan tunggal putra ikut juga berperan," legenda asal Surabaya itu menyarankan.

"Lalu ganda putri sekarang kita tanya, loh ganda putri di mana? Materinya ada enggak? Mana yang muda sampai sekarang belum keluar? Ganda putri kita kecil-kecil begitu, caranya gimana nguatin? Ya, bikin defense-nya kayak tembok. Tembok enggak nyemash diem saja," ujar dia.

"Namanya bertahan tunggu lawannya capek baru diserang, itu namanya defence balik serang. Bisa enggak pemain putri kita begitu? Ya enggak tahu pelatih ganda putrinya bisa enggak menebak kira-kira lawan ini akan nyemash ke sini, balik ke sini, siapa yang ambil kalau lawan nyemas di tengah," dia menuturkan.

"Jadi, memang segudang PR-nya. Tetapi, itu akan jadi tidak segudang kalau pemainnya sendiri yang sadar. Ini kan semua tergantung pemain. Bagaimana mau berhasil di pertandingan kalau di latihan dia tak mau benar-benar serius. Ada pepatah Inggris practice make you perfect. Jadi itu lah yang harus dilakukan. Kalau latihan serius pasti bertanding serius, enggak usah dikasih tahu. Yang enggak latihan saja, bertanding bisa serius kok. Apalagi yang latihan serius," dia menegaskan.

"Makanya, harusnya ada reward and punishment. Kalau salah, dihukum demi menyadarkan. Kalau latihan tidak 100 persen ngapain dikirim, kalau sasaran latihan belum masuk ngapain dikirim. Itu ya bidang pembinaan tanyakan. Kita mengirim karena harus memenuhi ini itu, ya sudah kalau memenuhi ini itu, kapan majunya. karena apa ? hanya ngikutin," ujar Rudy.

"Ya memang berat. Tapi kepentingan nasional kayak Sudirman, Thomas, Uber tak bisa terpenuhi. Berpikir lah. Kan di sana di gaji, pikirkan. Jangan terima gaji saja," kata dia.

(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed