detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Kamis, 25 Mar 2021 16:30 WIB

KOI soal All England 2021: Maaf Saja dari BWF Tidak Cukup!

Mercy Raya - detikSport
Asian Track Cycling Championships 2019 resmi dibuka. Mulai dari 9-13 Januari pebalap sepeda dari sejumlah negara Asia akan adu cepat di kejuaraan tersebut. Pembukaan Asian Track Cycling Championships 2019 berlangsung di di Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (8/7/2019). Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari (Pradita Utama/detikSport)
Jakarta -

Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari menyeriusi rencana mengajukan tuntutan ke Badan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS). Langkah ini dilakukan supaya BWF tak sekadar minta maaf tapi tahu letak kesalahannya.

Sebelumnya, KOI telah melayangkan surat protes kepada Badminton World Federation (BWF) terkait dipaksa mundurnya tim bulutangkis Indonesia dan tindakan diskriminatif yang dialami pada All England 2021.

Mereka bahkan merencanakan untuk meneruskan skandal ini ke CAS. Namun dalam prosesnya BWF merespons dengan permintaan maaf. Melalui Presiden BWF, Poul Erik, menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden RI Joko Widodo, menteri terkait, duta besar, hingga fans bulutangkis Indonesia. Tapi maaf saja dinilai tak cukup untuk mengetahui lebih jelas letak kesalahan BWF.

"Jadi gugatan itu adalah bentuk tekanan kita kepada BWF yang sampai hari ini mohon maaf masih belum mengaku kalau yang salah dia," kata Ketua KOI Raja Sapta Oktohari dalam program diskusi Mata Najwa di Trans 7, Rabu (24/3/2021) malam.

"Kalau masalah maaf-maafan itu saya sudah komunikasi dengan teman-teman atlet bahwa maaf-maafan nanti setelah Lebaran. Tapi kaitan dengan kerugian dan apa yang telah dilakukan kepada atlet kita ini harus ada yang bertanggung jawab," dia menjelaskan.

Menurut eks Ketua Asian Para Games 2018 ini, BWF tidak bisa hanya sembunyi di balik satu negara seperti Inggris.

"Jadi pertanyaannya sekarang BWF bukan hanya minta maaf tapi harus jelas dulu di mana salahnya, kenapa bisa salah, dan konsekuensinya seperti apa? Dan ini harus disuarakan supaya tidak terjadi lagi," ujarnya.

Sehubungan itu, Okto juga merasa bahwa BWF belum merespons apa yang menjadi keberatannya dalam surat yang KOI layangkan.

"Kami dari KOI sudah berkomunikasi dengan para stakeholder. Waktu itu saya minta izin kepada Pak Ketum PBSI, saya lapor juga kepada Pak Menteri, saya koordinasi dengan yang lain-lain, dan kami telah melayangkan surat ke BWF. Surat yang lain kami layangkan ke NOC Inggris, kami sudah mendapatkan feedback. Tapi kami belum dapat feedback apa-apa dari BWF," katanya.

"Kami juga telah koordinasi dengan OCA, mereka menunggu surat resmi kita, kami juga akan menyurati dengan IOC, sehingga poin-poinnya nanti insya Allah saya akan kembali ke Jakarta kami akan duduk sama-sama dengan Menpora dan PBSI. Karena kalau kaitannya dengan hukum ini harus betul-betul terstruktur tujuannya," Okto menegaskan.

Lihat juga Video: Hikmah yang Dipetik Indonesia dari Insiden All England

[Gambas:Video 20detik]



(mcy/aff)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com