Greysia/Apriyani Dituntut Lebih Rileks Jelang Olimpiade Tokyo 2020

Mercy Raya - Sport
Rabu, 09 Jun 2021 00:35 WIB
Greysia Polii/Apriyani Rahayu meraih gelar nomor ganda putri Daihatsu Indonesia Masters 2020. Mereka juara usai melewati duel tiga gim di final.
Greysia/Apriyani menjadi wakil ganda putri Indonesia satu-satunya di Olimpiade Tokyo. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu dituntut lebih rileks menuju Olimpiade Tokyo 2020. Hal itu untuk menjaga mental mereka tetap stabil.

Greysia/Apriyani menjadi satu-satunya wakil ganda putri Indonesia di multievent yang dihelat 23 Juli-8 Agustus mendatang.

Mereka bertekad untuk tampil sebaik mungkin dan meraih medali. Jika berhasil, ini akan menjadi catatan apik sepanjang keikutsertaan ganda putri Indonesia di Olimpiade.

Meski begitu, mereka juga diminta untuk tak terlalu terbebani, apalagi tertekan dengan target tersebut. Pernyataan itu dipertegas pelatih kepala ganda putri Eng Hian di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (8/6/2021).

"Untuk sisi fisik mereka sudah siap, tetapi ini kan turnamen besar di olahraga, bukan hanya bulutangkis dan digelar pun hanya empat tahun sekali. Jadi saya menaruh perhatian lebih pada masalah nonteknisnya," ujar Eng Hian dalam keterangan rilisnya.

"Bagaimana saya bisa menjaga mereka tidak berada di bawah tekanan atau terlalu berekspektasi tinggi, saya buat serileks mungkin seperti turnamen biasa saja," lanjutnya.

Eng HianEng Hian saat melatih Greysia/Apriyani. Foto: Dok. PBSI

Mewujudkan itu, Eng Hian yang karib disapa Didi ini, meminta bantuan tim psikolog di PBSI untuk mendampingi Greysia/Apriyani hingga hari pertandingan.

"Tim psikolog membuat program serta mendampingi Greysia/Apriyani, agar kondisi mental mereka tetap bagus dan terjaga. Juga agar mereka selalu bisa mengikis ketegangan saat pertandingan di lapangan atau saat di luar lapangan," tutur peraih medali perunggu Olimpiade Athena 2004 bersama Flandy Limpele itu.

"Saya pernah merasakan bagaimana tegangnya bermain di Olimpiade. Tegangnya bukan hanya di lapangan tapi kadang sebelum tidur juga ada rasa tegang dan kalau tidak bisa mengatasinya bisa merugikan."

"Makanya, saya tidak mau hal itu terjadi pada mereka, terutama Apri yang baru kali ini turun di Olimpiade," Eng Hian menegaskan.

(mcy/adp)