Sosok Ayah di Mata Mohammad Ahsan

Mercy Raya - Sport
Senin, 09 Agu 2021 17:17 WIB
Ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan (kanan) dan Hendra Setiawan mengembalikan kok ke arah ganda putra Korea Solgyu Choi dan Seungjae Seo dalam penyisihan Grup D Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Selasa (27/7/2021). Ahsan dan Hendra berhasil menjadi juara grup D setelah menang 21-12, 19-21, 21-18 atas Solgyu Choi dan Seungjae Seo. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/hp.
Mohammad Ahsan mengungkap sosok sang ayah yang baru wafat. (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta -

Pebulutangkis ganda putra Mohammad Ahsan baru saja kehilangan ayahnya, H. Tumin Atmadi. Begini sosok sang ayah di mata sang juara dunia bulutangkis.

Bagi Ahsan, ayahnya adalah sosok yang sangat membanggakan. Almarhum disebut Ahsan adalah ayah yang memiliki kedisiplinan tinggi dan sosok yang mengenalkan bulutangkis sejak kecil.

"Ayah yang pertama kali mengenalkan olahraga bulutangkis kepada saya. Dari kecil semua anak-anaknya dikenalkan dan memang benar anaknya mau dijadikan atlet badminton," kata Ahsan kepada detikSport, Senin (9/8/2021).

"Jadi dididik benar, diajari, dan kami merasakan benar lah disiplinnya beliau. Alhamdullilah iya," ungkap Ahsan soal cita-cita ayahnya yang ingin menjadikan anaknya sebagai atlet badminton sukses.

Menurut pemain kelahiran 7 September 1987 ini, sejauh ini ayahnya juga cukup puas dengan torehan prestasi yang ia dapatkan selama ini. Terlebih saat ini, ia merupakan salah satu atlet terbaik di dunia. Bersama Hendra Setiawan, ia tidak hanya menempati peringkat 2 Badminton World Federation (BWF), juga mencatatkan deretan prestasi di single event maupun multievent.

Dia menjadi juara pada 2013 China, 2015 Jakarta, dan 2019 Basel. Serta menjuarai All England 2014 dan 2019.

"Enggak ada sih (ambisi atau cita-cita ayahnya yang belum tercapai). Pas terakhir saya izin mau berangkat (Olimpiade) juga sudah enggak gimana. Cukup katanya," kata Ahsan mengungkapkan.

"Ayah mungkin ada rasa khawatir apalagi pertandingan digelar dengan kondisi masih COVID-19 begini, jadi menyarankan cukup lah. Jadi sudah enggak yang ambisi mau bagaimana-bagaimana lagi," ujarnya.

Tak hanya sekali saja, ayahnya meminta Ahsan untuk tidak perlu ikut turnamen. Saat Ahsan bertolak ke All England, sang ayah bahkan menyarankan tidak perlu berangkat.

"Sebelum berangkat ke Inggris saya sempat mau izin ke ayah dan beliau menyarankan sebenarnya tidak perlu berangkat. Sudah begitu, mungkin khawatir, naik pesawat lagi, COVID-19 lagi tinggi, jadi cukup dengan apa yang sudah diraih," dia mengungkapkan.

"Ya, kembali lagi kita kan main tidak lama lagi, mungkin tetap masih mau jalani, itu pesan ayah sih," kata atlet kelahiran Palembang, Sumatera Selatan ini.

Kegemaran almarhum terhadap bulutangkis juga sempat diinformasikan akun Instagram @pbsisumsel. Dalam unggahannya tersebut, PBSI Sumsel tak hanya mengucapkan ungkapan duka cita, tapi menceritakan sosok almarhum yang aktif di cabang olahraga bulutangkis.

"Selama hidupnya almarhum aktif di bulutangkis, sehingga berhasil mengantarkan anaknya Ahsan berprestasi seperti sekarang ini," tulis PBSI Sumsel.

Ayah Ahsan, H. Tumin Atmadi, meninggal dunia pada Senin (9/8/2021). Almarhum sebelumnya punya penyakit dalam, kemudian terpapar COVID-19.

(mcy/cas)