PBSI Tak Kirim Pemain ke Luar Negeri karena Dana? Ketum Membantah

Mercy Raya - Sport
Selasa, 11 Jan 2022 17:10 WIB
Agung Firman Sampurna dilantik sebagai Ketum PP PBSI di Swissotel Jakarta PIK Avenue, Jumat (9/4/2021). Pelantikan dilakukan oleh Ketua KONI Pusat Marciano Norman.
Ketum PBSI Agung Firman Sampurna. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Pebulutangkis Indonesia absen di sejumlah turnamen Internasional bukan karena PBSI mengalami persoalan dana. Hal itu ditegaskan Ketua Umum PP PBSI Agung Firman Sampurna.

"Keuangan kita saat ini sangat baik, bukan hanya baik. Kontrak kami dengan dua sponsor utama adalah empat tahun," kata Agung, dalam keterangan tertulis PBSI, Selasa (11/1/2021).

Agung menegaskan hal tersebut setelah ada kabar absennya para pemain Pelatnas dari sejumlah turnamen internasional karena kesulitan anggaran. Salah satunya, yang santer terdengar saat para pemain Pelatnas mundur dari Kejuaraan Dunia Bulutangkis pada Desember 2021. Alasannya lantaran virus Omicron yang tengah meningkat.

"Bagaimana ceritanya kita tidak punya dana hanya untuk mengirim pemain ke luar negeri. Untuk menggelar kejuaraan seperti Indonesia Badminton Festival (IBF) di Bali lalu yang dananya puluhan kali lebih besar saja mampu. Masak cuma mengirim pemain tidak mampu," sebut Agung.

Menurut Agung, pihaknya dapat membantah karena pemerintah sendiri memberikan kucuran dana secara rutin setiap tahunnya, bahkan mengalami peningkatan.

Selain itu, harus dipahami bahwa dengan prestasi dan keberhasilan penyelenggaraan turnamen internasional IBF di Bali yang sukses luar biasa lalu, kini sejumlah dunia usaha mulai mengantre menjadi sponsor baru PBSI.

"Bisa saya sampaikan, dengan catatan prestasi tersebut, kini mulai mengantri sponsor-sponsor baru untuk mendukung PBSI. Jadi daripada bikin masalah dan ribut-ribut, bagi dunia usaha yang mau ikut, lebih baik mengajukan kepada kami untuk jadi sponsor," ucap Agung.

Hanya saja, menurut Agung, dunia usaha yang tertarik mau menjadi sponsor pun punya batasan. Posisinya hanya sebagai sponsor. Sementara operator dan sekaligus regulator tetap berada di tangan PBSI. "Silakan bagi yang mau ikut corporate branding, akan diberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siapa pun," sebut Agung.

"Karenanya untuk melakukan character assassination, baik yang ditujukan kepada saya ataupun dengan menjelekkan PBSI, tidak akan menghalangi apa pun yang terus kami lakukan. Secara organisasi kita akan semakin solid dengan sistem pendanaan yang lebih mandiri. Dengan tata kelola yang semakin transparan dan akuntabel, hal ini akan mendukung kelanjutan pembinaan. Saya yakin, prestasi PBSI akan jadi tambah baik ke depannya," tegasnya.

Agung optimistis, dengan dukungan yang makin baik ini maka akan men-couragement bagi para pemain yang memilih bulutangkis sebagai profesi. Ke depan, secara bertahap bulutangkis tak hanya sekadar olahraga prestasi, tetapi juga akan didorong agar bertransformasi menjadi industri. Ini sesuai dengan visi-misi PP PBSI periode 2020-2024 yang dipimpinnya.

(mcy/krs)