ADVERTISEMENT

4 September, Tanggal Debut Bulutangkis Dipertandingkan di Olimpiade

Mercy Raya - Sport
Minggu, 04 Sep 2022 21:39 WIB
ATHENS - AUGUST 21:  (L-R) Seung Mo Shon of Korea (silver), Taufik Hidayat of Indonesia (gold) and Soni Dwi Kuncoro of Indonesia (bronze) celebrate after receiving medals  for the mens singles badminton event on August 21, 2004 during the Athens 2004 Summer Olympic Games at Olympic Hall in the Goudi Olympic Complex in Athens, Greece. (Photo by Jonathan Ferrey/Getty Images)
Badminton sudah 50 tahun dipertandingankan di Olimpiade. (Foto: Getty Images/Jonathan Ferrey)
Jakarta -

Bulutangkis menandai perjalanannya ke-50 tahun di Olimpiade tepat pada 4 September 2022. Rudy Hartono, Ade Chandra, dan Christian Hadinata menjadi wakil Indonesia yang turut menandai ukiran sejarah tersebut.

Menukil dari laman resmi BWF, bulutangkis memulai debutnya sebagai olahraga yang memperebutkan medali Olimpiade pada 1992. Saat itu menjadi yang pertama sejak 20 tahun sebelumnya bulutangkis hanya sebagai olahraga demonstrasi.

Ajangnya pun dilakukan di aula bola voli, yang memiliki dua lapangan untuk tiga sesi pada Senin (4/9/1972). Meski begitu, acara tersebut cukup menarik minat para penonton dengan 3.970 tiket habis terjual.

Adapun total pemain yang bermain sebanyak 25 pebulutangkis dari 11 negara yang diundang. Mereka bermain di empat sektor yaitu tunggal putra, tunggal putri, ganda putra dan ganda campuran.

Saat itu, Rudy Hartono, Svend Pri, Gilian Gilks, Noriko Nakayama, Christian Hadinata/Ade Chandra, dan Ng Boon Bee/Punch Gunalan, Herbert Scheele (wasit kehormatan) menjadi bintang di kompetisi tersebut usai memenangkan petandingan di empat sektor tersebut.

Tak hanya itu, laman BWF juga menuliskan fakta, bahwa tak mudah untuk menggelar turnamen bulutangkis saat itu. Mereka menyebut butuh usaha dan biaya yang cukup besar guna menggelar kompetisi bulutangkis tersebut.

International Badminton Federation (IBF), sebutan sebelum BWF (Badminton World Federation), disebut mengeluarkan anggaran sebesar 500 pound sterling atau setara Rp 8.570.518,65 pada saat itu.

Jumlah yang sangat besar untuk IBF kala itu pun akhirnya diperoleh dengan berbagai cara-cara inovatif demi memenuhi anggaran biaya. Salah satunya dengan memproduksi stiker turnamen yang kemudian ditawarkan kepada seluruh anggota IBF untuk dijual kembali dengan harga masing-masing 14 pence (mata uang koin pound sterling). Namun, harganya akan lebih murah 9 pence jika memesan dalam jumlah banyak yakni 250 buah.

Cara itu pun terbukti berhasil. IBF sukses menerima pesanan sebanyak 7.000 striker yang berguna untuk menggelar kompetisi bulutangkis tersebut.

Sampai kini, olahraga bulutangkis di Olimpiade masih menjadi cabang yang dipertandingkan. Adapun bulutangkis di Olimpiade masih didominasi oleh China dengan perolehan 20 medali emas, 12 perak, dan 15 perunggu.

Indonesia menjadi negara nomor dua dengan perolehan medali emas terbanyak yaith 8 medali. Sedangkan medali perak ada 6 dan 7 medali perunggu.

Di bawah China dan Indonesia ada Korea Selatan (6 emas, 7 perak, 7 perunggu), Denmark (2 emas, 3 perak, dan 4 perunggu), serta Jepang (1 emas, 1 perak, dan 2 perunggu).

Sementara itu, Olimpiade terakhir kali dipertandingkan di Tokyo, pada tahun lalu. Seharusnya digelar tepat pada 2020 namun imbas pandemi yang terjadi secara global, multievent terbesat di dunia itu ditunda pelaksanaannya hingga Juli 2021.

Indonesia sendiri saat itu berhasil mengukir sejarah lewat pencapaian ganda putri di Olimpiade. Untuk kali pertama, ganda putri Indonesia berhasil merebut medali emas sejak 1992 nyaris gagal diraih. Gelar itu dipersembahkan Greysia Polii/Apriyani Rahayu.

Selain medali emas, Indonesia juga mendapat persembahan medali perunggu dari tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting.



Simak Video "Unik! Kafetaria Olimpiade Beijing 2022 Gunakan Robot"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/cas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT