Maradona, Juru Selamat atau Blunder?

Maradona, Juru Selamat atau Blunder?

- Sepakbola
Kamis, 30 Okt 2008 00:58 WIB
Maradona, Juru Selamat atau Blunder?
Buenos Aires - Maradona santer dikabarkan akan menjadi bos baru timnas Argentina. Tapi penunjukkan sang legenda banyak yang menganggap berpotensi menjadi blunder.

Untuk tim sekelas Argentina, apa yang mereka raih di Kualifikasi Piala Dunia 2010 bisalah dianggap mengecewakan. Setelah menjalani 10 pertandingan, Lionel Messi cs masih tertahan di posisi tiga klasemen, terpaut tujuh poin dari Paraguay yang kini menjadi pemuncak.

Banyak yang kemudian beranggapan kalau munculnya nama Maradona untuk menggantikan Alfio Basile adalah sebuah langkah positif mengingat dia merupakan pemain terbesar yang pernah dimiliki tim Tango. Dengan karismanya, Maradona dianggap bisa dengan mudah menuntun Argentina kembali ke performa terbaiknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi tak semua pihak beranggapan seperti itu. Media-media di Argentina malah menilai penunjukkan Maradona sebagai pelatih timnas sebagai sebuh keputusan berisiko tinggi.

"Itu merupakan keputusan paling berisiko sepanjang sejarah," tulis La Nacion dalam terbitannya. Surat kabar itu juga mengklaim kalau sebagian besar pembacanya juga tak setuju dengan rencanan penunjukkan Maradona.

La Nacion tak menyangkal kalau Maradona berhasil memotivasi pemain Argentina di Olimpiade Beijing lalu di mana mereka kemudian berhasil menggondol medali emas. Namun untuk pekerjaan besar seperti membawa Argentina ke Afrika Selatan 2010 dianggap sebagai berisiko tinggi dan tak bisa dibenarkan.

Sementara itu koran Clarin menyalahkan Presiden Asosiasi Sepakbola Argentina, Julio Grondona, atas pencalonan Maradona sebagai pelatih. "(Julio Grondona) membuat keputusan tidak meyakinkan dan itu berpotensi membahayakan. Gordona merupakan satu-satunya orang yang memutuskan hal tersebut (penunjukkan Maradona), tanpa memikirkan baik-buruknya," tulis surat kabar yang bermarkas di Buenos Aires itu.

Sedangkan Ole memilih membandingkan Maradona dengan Carlos Bianchi untuk menunjukkan penolakannya pada pahlawan Argentina di Piala Dunia 1986 itu. Bianchi yang mengecap banyak sukses bersama beberapa klub berbeda dianggap lebih pantas dibanding Maradona yang belum punya pengalaman melatih sama sekali.

"Carlos Bianchi adalah sejarah. Dia tak akan mendapat kesempatan yang dia layak dapatkan, Bianchi akan merasa depresi saat tahu Maradona akan bersatu lagi dengan Grondona. Bianchi kalah dari Maradona, ini bisa diumpamakan: Mengalahkan Bianchi seperti mengalahkan (George) Foreman, Tyson atau Monzon," demikian Ole seperti dikutip Goal. (din/roz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads