Museum bernama Museu do Futebol itu berlokasi di Pacaembu Stadium, yang merupakan stadion kandang klub kota tersebut, Corinthians.
Saat memasuki museum, pengunjung disapa dalam bahasa Portugis, Spanyol dan Inggris oleh sang legendaris Pele. Memang bukan Pele sebenarnya melainkan Pele dalam wujud video yang ditampilkan di monitor seukuran tubuh aslinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Museum ini sepertinya lebih diperuntukkan menghormati Pele, karena banyak sekali memorabilia pemain besar itu, termasuk bola saat ia mencetak gol ke-1.000-nya saat melawan Vasco da Gama pada 19 November 1969.
Total ada 16 ruangan yang menjelaskan secara detil seluk beluk sepakbola di Brasil, mulai dari pemain, wasit, fans, dan memorabilia.
Di situ dijelaskan mengenai sejarah masuknya sepakbola dari Inggris ke Brasil. Adalah Charles Miller anak dari keturunan Skotlandia dan ibu Brasil yang mengenalkan olahraga ini ke negara tersebut pada 1894. Miller belajar di Inggris dan membawa pulang hobi tersebut ke negara yang aslinya merupakan negara agraris.
Yang menarik, adalah sepakbola mengubah sisi gelap rasialisme di sana. Dengan sepakbola, semua ras bersatu dan melupakan perbedaan. Memang awalnya hanya dimainkan keturunan Eropa tapi lama-kelamaan, ras lain pun bisa menikmatinya.
Sebagian besar museum menggunakan monitor interaktif untuk menarik pengunjung. Mulai dari video kesaksian para jurnalis dan artis-artis selebriti Brasil tentang momen-momen yang dianggap paling tak terlupakan saat mereka nonton bola sampai game-game menarik.
Salah satu game tersebut adalah "adu penalti". Pengunjung bisa mengukur sendiri kecepatan bola dalam adu penalti melawan kiper. Fotonya bisa Anda dapatkan di situs resmi museum secara gratis.
Selain pemain, apa yang paling khas dari sepakbola Amerika Latin, suara para penyiar radio yang kencang dan panjang saat meneriakkan gol: "Gooooooolll ...."
Karena itulah, pengunjung pun bisa menikmati berbagai suara radio mulai dari tahun 1960-an sampai 2000, yang pastinya ada teriakan khas tadi.
Sayang, pengunjung dilarang memotret suasana di dalam museum ini. "Anda hanya boleh memotret di luar stadion," ujar seorang petugas museum saat melihat kami ingin menjepret 'Ronaldinho' yang menggocek bola tanpa menyentuh tanah sambil bergoyang samba.
"Wah, kalau Hambalang diseriusi bisa seperti ini nih. Sayang dikorupsi," kelakar seorang rekan media, yang bersama detikoto datang ke Sao Paulo atas undangan Chevrolet Indonesia.
(ddn/a2s)











































