Kisah Leicester saat ini benar-benar bak sebuah dongeng; dari nyaris terdegradasi sampai berada dalam posisi realistis untuk meraih gelar juara liga level teratas mematahkan segala macam dugaan.
Dalam sejarah 132 tahun perjalanan sejak didirikan, Leicester bukannya nirgelar. Tiga titel Piala Liga Inggris pernah disabet. Total delapan gelar liga di Inggris pun sudah diraih, walaupun bukan di level teratas (tujuh di tier kedua dan satu di level ketiga).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebangkitan Leicester untuk selamat dari zona maut musim lalu sudah terlihat impresif, meskipun itu rupanya baru awal. Musim ini tim yang dibesut Claudio Ranieri tersebut tampil jadi pesaing serius di Premier League.
Dari Pekan 1-10, posisi terburuk Leicester adalah satu kali menempati peringkat enam dan bahkan tiga pekan bertengger di posisi teratas. Pucuk klasemen itu pun tak pernah ditinggalkan Leicester sedari Pekan 22, sampai sekarang menyisakan enam laga lagi.

[Getty Images/Michael Regan]
Dengan keunggulan tujuh poin dari Tottenham Hotspur yang menempati peringkat dua, Leicester bahkan dipastikan belum akan kehilangan posisi setidaknya sampai dua pekan ke depan. Maka tentu saja kans juara amat terbuka.
'Leicester' Lain di Rusia
Sekitar 3.200 kilometer ke arah timur dari King Power Stadium markas Leicester, ada klub FC Rostov yang melakukan gebrakan serupa di kancah Premier League Rusia.
Musim lalu Rostov tak kunjung meninggalkan zona merah Premier League Rusia pada Pekan 6-21, dari 30 pekan yang harus dijalani. Di akhir musim, Rostov bahkan finis di peringkat 14 dan harus melewati play-off untuk bisa bertahan di liga level teratas.
Akan tetapi, musim ini Rostov malah mengkrabi papan atas. Terkecuali pekan pertama, Rostov tidak pernah meninggalkan posisi lima besar sampai dengan Pekan 22 sejauh ini.
Sedari Pekan 14, posisi dua besar pun selalu ditempati Rostov. Bermodal kemenangan 2-0 atas Spartak Moskow akhir pekan lalu, Rostov kini bahkan sedang bertengger di puncak klasemen dengan keunggulan satu angka atas lawan yang dikalahkannya itu.
Rostov jelas kalah mentereng dan populer dibandingkan klub-klub lain yang langganan juara. Nama Spartak Moskow, CSKA Moskow, dan Zenit St Petersburg bukan cuma lebih dikenal melainkan juga punya total 18 titel liga di antara mereka.

[Epsilon/Getty Images]
Rostov sementara itu, seperti halnya Leicester, belum pernah bisa juara liga level teratas. Klub yang berumur 86 tahun tersebut baru satu kali juara liga divisi dua Rusia (tahun 2008), walaupun kerennya mampu menjuarai Piala Rusia tahun 2014 lalu.
Berbeda dengan Leicester, Rostov lebih "mengenaskan" dalam hal keuangan. Guardian menyebut bahwa sektor pendanaan klub yang dimiliki pemerintah setempat itu sudah amat terimbas dengan resesi ekonomi di Rusia dan, "pada Oktober 2015, situasinya sudah cukup serius sehingga sejumlah pegawai klub mengancam mogok."
Sokongan dana dari pengusaha tembakau Ivan Savvidi juga disebut tak lantas membuat nafas Rostov jadi lebih panjang karena masa depan mereka setelah musim ini belum jelas benar. "Tapi di jangka panjang, masa depan tetap menjanjikan buat Rostov dengan sebuah stadion baru sedang dibangun untuk Piala Dunia, menggantikan markasnya yang berkapasitas 16 ribu kursi di Stadion Olimp-2."
Ranieri di Leicester, Berdyev di Rostov
Atas performa yang diperlihatkan Leicester musim ini, Ranieri selaku peracik taktik tak ayal harus mendapat pujian dan pengakuan tersendiri. Pria berjuluk Tinkerman itu datang pada musim panas ke sebuah tim yang sebelumnya harus bersusah-payah menyelamatkan diri, dan dalam waktu singkat aksi reparasi dan utak-atiknya sudah mengubah tim tersebut menjadi salah satu kandidat juara.
[Baca juga: Sayonara untuk Reputasi Claudio Ranieri]
Untuk Ranieri, sepak terjangnya bersama Leicester itu sekaligus memberinya peluang untuk menghapus predikat Tuan Runner-up, mengingat dalam karier melatihnya si Italiano 64 tahun tersebut lebih banyak tertunduk kalah dan jadi nomor dua di liga.
[Baca juga: Claudio Ranieri Mengejar Gelar Lagi]
Di Rostov, posisi juru racik itu ditempati oleh Kurban Berdyev, pria kelahiran Turkmenistan 63 tahun silam, yang memulai karier melatihnya sejak tahun 1986 silam--sama seperti Ranieri.
Ranieri dalam karier melatihnya pernah menangani klub Italia, Spanyol, dan Prancis, selain juga tim nasional Yunani. Sementara karier melatih Berdyev dihabiskan di Turkmenistan dan Rusia, dengan posisi pelatih timnas Turkmenistan pernah pula ia pegang. Tetapi berbeda dengan Ranieri, sebelum ini Berdyev sudah pernah merasakan bagaimana rasanya menjuarai liga divisi teratas, baik di Turkmenistan (bersama klub Nisa Asgabat pada 1999) maupun di Rusia (dengan Rubin Kazan di 2008 dan 2009).
Kiprah melatih Berdyev sendiri mulai jadi buah bibir setelah ia membawa Rubin Kazan promosi ke Premier League Rusia pada 2002. Ia bertahan di Rubin sampai dengan 2013 lalu, sampai kemudian ditunjuk menangani Rostov pada 18 Desember 2014. Untuk yang tak terlalu ngeh dengan sosoknya, figur Berdyev amat mudah dikenali dengan kebiasaannya memegang tasbih di tangan kanan--ia seorang Muslim.

[Epsilon/Getty Images]
"Saya tidak melihatnya sebagai kebiasaan atau alat tertentu. Saya cuma memerlukannya. Saya hanya merasa harus memegangnya di tangan ketika saya menyaksikan pertandingan. Saya merasa tidak sreg tanpanya," ucap Berdyev suatu waktu.
"Ada beberapa kali saya tak sengaja lupa membawanya ke pertandingan, walaupun itu bukan kekeliruan saya. Dan saya merasa tak nyaman sepanjang pertandingan, seperti ada yang tak lengkap. Maka ini hanyalah sesuatu yang saya perlu. Saya pikir kaum Muslim akan paham," sebut pria yang juga disebut amat jarang memperlihatkan emosi berlebihan di atas lapangan tersebut.
Dan seperti halnya Ranieri yang terus-menerus menegaskan bahwa Leicester saat ini tampil tanpa beban dan fokus ke pertandingan satu demi satu, Berdyev pun tak jauh beda. "Tak ada yang mematok target sama sekali buat tim. Kami berjalan dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Dengan masalah keuangan kami, bagaimana mungkin kami bisa mematok target serius?" ucapnya bulan lalu.
(krs/din)











































