sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Selasa, 21 Apr 2020 19:00 WIB

Bukan Corona, Para Pesepakbola Kini Malah Rentan Depresi

Rifqi Ardita Widianto - detikSport
VALENCIA, SPAIN - MARCH 10: Josip Ilicic of Atalanta ceebrates after he scores his sides fourth goal during the UEFA Champions League round of 16 second leg match between Valencia CF and Atalanta at Estadio Mestalla on March 10, 2020 in Valencia, Spain. (Photo by UEFA Pool/Getty Images) Studi menunjukkan sejumlah pesepakbola profesional rentan terhadap depresi dan kecemasan. (Foto: Getty Images/UEFA Pool)
Jakarta -

Virus Corona membuat sejumlah kompetisi sepakbola ditangguhkan untuk mencegah penyebaran wabah. Tapi kini para pemain menghadapi lawan lain: depresi.

Hal tersebut terungkap lewat survei yang dilakukan oleh serikat pesepakbola seluruh dunia, Fifpro. Studi dilakukan terhadap 1.602 pemain profesional, dengan periode 22 Maret-14 April atau saat penangguhan kompetisi dilakukan.

Termasuk dalam survei tersebut adalah para pemain dari Inggris, Skotlandia, dan Republik Irlandia, plus 13 negara lain yang juga menerapkan penangguhan kompetisi dan meminta pesepakbola berlatih secara mandiri di rumah. Hasilnya adalah, 22% dari 468 pesepakbola putri dan 13% dari 1.134 pesepakbola putra menunjukkan gejala yang konsisten dengan diagnosis depresi.

Persentase itu meningkat sekitar dua kali dari saat survei serupa digelar ketika kompetisi masih berjalan. Pada Desember dan Januari lalu, survei terhadap lingkup yang lebih kecil yakni 307 pemain mengungkap bahwa hanya 11% pesepakbola putri dan 6% pesepakbola putra menunjukkan gejala karakter depresi.

Tak cuma depresi, ada pula tanda-tanda kecemasan umum (anxiety) dari para pesepakbola yang disurvei. 18% pemain putri dan 16% persen pemain putra menunjukkan tanda-tanda ini.

Fifpro mengungkapkan bahwa para pemain yang mengkhawatirkan kelanjutkan masa depan cenderung secara signifikan lebih mungkin melaporkan gejala depresi atau kecemasan. Sementara para pemain top secara finansial relatif aman, kontrak rata-rata pemain di dunia kurang dari dua tahun sehingga mereka menghadapi risiko kesulitan ekonomi.

Faktor lain yang diperkirakan berpengaruh adalah kesepian. Rata-rata pemain bola putra yang disurvei berusia 26 tahun dan pemain putri di usia 23 tahun, banyak pemain dalam rentang usia ini yang hidup sendiri dalam perantauan dan jauh dari keluarga.

Masa-masa krisis COVID-19 yang tak diketahui kapan berakhir seperti ini menjadi tekanan mental yang besar untuk mereka.

"Di sepakbola, tiba-tiba atlet muda laki-laki dan wanita harus menghadapi isolasi sosial, penangguhan kehidupan kerja, dan keraguan akan masa depan mereka. Beberapa mungkin tidak siap untuk menghadapi perubahan-perubahan ini dan kami mendorong mereka untuk mencari bantuan dari orang-orang yang mereka percaya atau ahli kesehatan mental," kata Kepala Petugas Medis Fifpro, Dr Vincent Gouttebarge dikutip Guardian.

Laporan dari Fifpro menunjukkan bahwa 75% dari para pemain yang disurvei punya akses cukup terhadap bantuan untuk kesehatan mental. Fifpro juga sedang mengembangkan alat kesehatan mental untuk memenuhi kebutuhan perawatan primer dasar para pesepakbola.



Simak Video "Tambah 3.989, Total Kasus Positif Covid-19 di RI Jadi 244.676"
[Gambas:Video 20detik]
(raw/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com