Eriksen Kolaps di Lapangan, Efek Padatnya Jadwal Sepakbola Eropa?

Adhi Prasetya - Sepakbola
Minggu, 13 Jun 2021 19:35 WIB
INNSBRUCK, AUSTRIA - JUNE 02: Christian Eriksen of Denmark looks on during the national anthem prior to the international friendly match between Germany and Denmark at Tivoli Stadion Tirol on June 02, 2021 in Innsbruck, Austria.  (Photo by Federico Gambarini - Pool/Getty Images)
Eriksen kolaps di laga Denmark vs Finlandia. Foto: Federico Gambarini - Pool/Getty /Pool
Jakarta -

Kolapsnya Christian Eriksen saat membela Timnas Denmark di Piala Eropa 2020 menimbulkan kritikan kepada otoritas dunia sepakbola, yang dianggap abai terhadap kondisi kesehatan pemain.

Adalah Asmir Begovic, kiper Bournemouth dan Timnas Bosnia-Herzegovina yang mengungkapkan hal demikian. Mantan pemain Chelsea dan AC Milan ini merasa saat ini jadwal kompetisi sudah terlalu padat.

Tanpa ada jeda yang cukup untuk pemain beristirahat, kelelahan hebat bisa melanda pemain. Meski tak menyebut nama Eriksen, pernyataan Begovic diyakini merujuk pada apa yang menimpa gelandang Inter Milan itu.

"Kesehatan dan kesejahteraan pemain sudah diabaikan sejak lama. Terus mendorong adanya pertandingan yang lebih banyak di periode yang padat hanya akan menimbulkan masalah kesehatan yang lebih pelik untuk pemain," tulis Begovic di akun media sosialnya.

"Semoga para pengambil keputusan akan memperhatikan ini," tutupnya.

Jadwal kompetisi di musim 2020/21 memang terbilang padat. Adanya Piala Eropa di pengujung musim membuat jadwal pertandingan dibuat sedemikian rupa agar jeda antara berakhirnya kompetisi di Eropa dan dimulainya Euro 2020 tidak terlalu mepet.

Paramedics using a stretcher to take out of the pitch Denmark's Christian Eriksen after he collapsed during the Euro 2020 soccer championship group B match between Denmark and Finland at Parken stadium in Copenhagen, Denmark, Saturday, June 12, 2021. (Friedemann Vogel/Pool via AP)Eriksen saat hendak dibawa ke rumah sakit. Foto: AP/Friedemann Vogel

Ini juga disebabkan adanya pandemi COVID-19, yang sempat membuat kompetisi di sejumlah negara besar Eropa pada musim 2019/20 tertunda sekitar 2-3 bulan, dan baru dilanjutkan pada Mei-Agustus tahun lalu.

Akibatnya, jeda musim 2019/20 dan 2002/21 begitu mepet, yakni hanya sekitar sebulan, termasuk pramusim. Padahal, biasanya ada jeda 2-3 bulan antara musim yang satu dengan yang berikutnya.

Kondisi tersebut membuat pemain rentan cedera akibat kelelahan. Belum lagi ada banyak pemain yang terkena COVID-19. Masalah ini dikeluhkan Pep Guardiola dan Juergen Klopp di Liga Inggris musim lalu.

MILAN, ITALY - FEBRUARY 28: Christian Eriksen of FC Internazionale reacts during the Serie A match between FC Internazionale and Genoa CFC at Stadio Giuseppe Meazza on February 28, 2021 in Milan, Italy. (Photo by Marco Luzzani/Getty Images)Eriksen turut mengantar Inter menjuarai Liga Italia musim lalu. Foto: Getty Images/Marco Luzzani

Cuitan Begovic diyakini diarahkan kepada UEFA dan FIFA, yang di satu sisi dianggap hanya mementingkan keuntungan semata dengan menggulirkan wacana menambah jumlah pertandingan di sejumlah turnamen, mulai dari Liga Champions, Piala Dunia Antarklub, hingga keinginan mengadakan Piala Dunia dua tahun sekali.

Eriksen kolaps di akhir babak pertama laga penyisihan Grup B antara Denmark vs Finlandia di Kopenhagen, Sabtu (12/6/2021). Ia sempat mendapat perawatan CPR di lapangan, sebelum akhirnya sadar dan dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Hingga kini belum ada penjelasan medis resmi penyebab kolapsnya Eriksen di lapangan, meski berdasarkan kasus yang pernah terjadi di masa lalu dan juga dari perawatan darurat yang didapat, ia diduga mengalami problem jantung.

Belum ada penjelasan juga apakah penyakit yang menyerang Eriksen disebabkan faktor kelelahan tubuhnya, walau faktanya ia bermain sebanyak 65 laga sejak Juni 2020 hingga Juni 2021, merujuk Transfermarkt, 51 di antaranya bersama Inter dan sisanya dengan Denmark.

Simak rangkuman keseruan Euro 2020/2021 di sini

(adp/krs)