Euro 2020: Declan Rice Tak Kenal Hantu Penalti!

Rifqi Ardita Widianto - Sepakbola
Sabtu, 26 Jun 2021 20:00 WIB
LONDON, ENGLAND - JUNE 26: England striker Alan Shearer ( right) heads in the England goal past goalkeeper Andreas Kopke as team mates Steve McManaman (l) David Platt (6th left) and Teddy Sheringham (c) look on during the 1996 UEFA European Championships semi final at Wembley Stadium on June 26, 1996 in London, United Kingdom. (Photo by Ross Kinnaird/Allsport/Getty Images/Hulton Archive)
Inggris kalah adu penalti dari Jerman di Piala Eropa 1996 usai imbang 1-1. (Foto: Hulton Archive/Ross Kinnaird)
Jakarta -

Inggris punya riwayat buruk dengan penalti melawan Jerman, Declan Rice juga berpengalaman pahit soal tendangan 12 pas. Tapi ia kini pede soal penalti.

Inggris akan menghadapi Jerman di Wembley, Senin (29/6/2021) malam WIB pada laga babak 16 besar Euro 2020. Ini adalah pertemuan ke-33 di seluruh ajang buat kedua tim, dengan Inggris menang 13 kali, empat kali imbang, dan menelan 15 kekalahan.

Tapi catatan di ajang kompetitif jauh berbeda. Inggris hanya tiga kali menang di 11 kesempatan sementara menelan enam kekalahan. Jika dikerucutkan hanya ke pertemuan di turnamen-turnamen besar, tim 'Tiga Singa' malah cuma sekali menang dalam lima pertemuan terakhir.

Kemenangan itu dipetik di Piala Eropa 2000. Keduanya berimbang di fase grup Piala Dunia 1982, lalu Jerman menang di semifinal Piala Dunia 1990, Piala Eropa 1996, serta babak 16 besar Piala Dunia 2010.

Yang menarik, dua dari tiga kekalahan tersebut ditelan Inggris lewat adu penalti. Mereka takluk 3-4 di Delle Alpi, Turin pada Piala Dunia 1990 dan kalah 5-6 di Wembley, London pada semifinal Piala Eropa 1996.

Maka tak heran kalau mantan pemain timnas Jerman Lothar Matthaeus meyakini Inggris tak akan bisa menang lewat adu penalti. Memori itu menjadi hantu untuk skuad Inggris.

Tapi gelandang Inggris Declan Rice cuek dengan hal-hal semacam ini dan malah menegaskan siap mengambil tugas itu jika diminta. Padahal ia sendiri juga punya pengalaman buruk semasa junior dengan penalti-penalti.

"Ya, pastinya saya akan mengambil kesempatan itu. Kalau Anda bertanya beberapa tahun lalu, saya mungkin akan menjawab tidak. Di tiga turnamen berbeda bersama Chelsea saat masih anak-anak, saya punya tiga kesempatan untuk memenangkan laga (lewat penalti) dan saya gagal di ketiganya," kata gelandang West Ham United itu dilansir Standard.

"Tak terdengar cukup bagus memang. Saya merasa saat itu, sebagai anak-anak, tekanan karena bermain tandang, antusiasmenya, berjalan menuju bola, bikin gugup. Lucunya sekarang dengan adanya penonton dan saya sudah melatihnya di West Ham sepanjang tahun, untuk sampai ke titik ini benar-benar cuma proses di kepala saya."

"Ketika wasit meniup peluit, Anda tak harus langsung bergerak. Anda bisa menghabiskan beberapa detik ekstra, melakukan teknik pernapasan untuk menenangkan diri, lalu soal visualisasi: bagaimana Anda ingin memasukkan bolanya."

"Itu adalah hal-hal yang mulai saya poles seiring bertambahnya usia. Saya cuma mencoba untuk berlatih dan kalau nama saya dipanggil jadi eksekutor, saya percaya bisa menceploskannya," imbuh pemain yang kabarnya diincar Manchester United ini.

Simak rangkuman keseruan Euro 2020/2021 di sini.

(raw/krs)