Euro 2020: Inggris Bak Semut yang Digajah-gajahkan?

Randy Prasatya - Sepakbola
Selasa, 29 Jun 2021 20:20 WIB
Englands Raheem Sterling, second right, is congratulated by teammates Englands Declan Rice, right, and Kyle Walker and Harry Kane, top, after scoring his team’s first goal during the Euro 2020 soccer championship group D match between the Czech Republic and England at Wembley stadium, London, Tuesday, June 22, 2021.
Inggris dituntut untuk membuktikan diri sebagai yang terbaik di Euro 2020. (Foto: AP/Neil Hall)
Jakarta -

Inggris selalu menjadi salah satu favorit di setiap ajang bergengsi. Pada akhirnya, The Three Lions sering gagal lagi dan lagi.

Inggris berhadapan dengan Jerman pada babak 16 besar Euro 2020 di Wembley Stadium, Selasa (29/6/2021) malam WIB. Tim besutan Gareth Southgate melaju dengan status juara Grup D.

Langkah Inggris di fase gugur cenderung meragukan meski sangat superior di kualifikasi dan dijagokan sebagai juara di bursa setelah Prancis. Inggris cuma mencetak dua gol di babak grup, yang merupakan tim paling 'ekonomis' dibandingkan dengan kontestan yang tersisa.

Sebagai negara pencetus sepakbola modern, Inggris tidak pernah merasakan gelar juara Eropa. Pencapaian tertinggi cuma sebagai semifinalis pada 1968 dan 1966.

Pada level yang lebih luas, yakni Piala Dunia, Inggris baru satu kali juara saat menjadi tuan Piala Dunia 1966. Itu juga untuk pertama kalinya Inggris menginjakkan kaki di final.

Jerman secara catatan pertemuan dengan Inggris ada di atas angin. Sejak kalah di semifinal Piala Dunia 1966 dengan skor 2-4, Die Mannschaft selalu menumbangkan Inggris di ajang turnamen bergengsi.

Momen paling menyakitkan bagi Inggris mungkin saat kalah adu penalti di semifinal Piala Dunia 1990 dan semifinal Euro 1996. Inggris juga pernah disakiti oleh Jerman pada 16 besar Piala Dunia 2010 saat tumbang 1-4.

Jerman memang masih meragukan sepanjang perjalanan Euro 2020. Jerman lolos sebagai runner-up Grup F dan cuma bermain imbang 2-2 dengan Hungaria, tapi permainan anak asuh Joachim Loew sangat menyerang.

Legenda sepakbola Jerman, Lothar Matthaeus, juga mengklaim bahwa negaranya bisa mengalahkan Inggris meski lewat adu penalti. Alasannya adalah masa lalu yang mungkin terus membayangi Inggris.

"Kami selalu sangat bagus kalau penalti - selalu ada sedikit lelucon antara Jerman dan Inggris," kata Matthaeus beberapa hari lalu yang dikutip The Guardian.

"Saya pikir jika sampai adu penalti maka kami adalah favorit karena Anda mulai berpikir tentang apa yang telah terjadi dalam 30 atau 40 tahun terakhir. Ketika kami bermain pada tahun 1990 dan 1996 ... ada banyak tekanan bagi para pemain Inggris karena mereka membaca setiap hari di surat kabar semua cerita tentang penalti."

"Jadi Inggris berpeluang memenangkan pertandingan dalam waktu 90 menit atau 120 menit. Tetapi jika sampai adu penalti maka Jerman adalah favorit," tegasnya.

Ada pula lelucon lama beredar di media sosial, yang menyatakan bahwa Inggris bukan tim kuat di setiap turnamen. Inggris menjadi terkesan favorit tak lebih dari framing media-media negara lokal yang sangat gencar.

So, menarik untuk ditunggu laju Inggris di fase gugur Euro 2020 seperti apa.

Simak informasi dan berita Euro 2020/2021 menarik lainnya di sini.



Simak Video "Perjalanan 15 Tahun Joachim Loew Bersama Jerman Berakhir!"
[Gambas:Video 20detik]
(ran/aff)