Piala Afrika: Banding Tunisia Minta Replay Lawan Mali Ditolak

Yanu Arifin - Sepakbola
Jumat, 14 Jan 2022 18:15 WIB
Tunisias head coach Mondher Kebaier, center left, gestures to the referee Janny Sikazwe of Zambia, during the African Cup of Nations 2022 group F soccer match between Tunisia and Mali at the Limbe Omnisport Stadium in Limbe, Cameroon, Wednesday, Jan. 12, 2022. (AP Photo/Sunday Alamba)
Momen pelatih Tunisia protes ke wasit usai laga melawan Mali di Piala Afrika. (Foto: /Sunday Alammba/AP)
Limbe -

Timnas Tunisia mengajukan banding, usai laga melawan Mali di Piala Afrika berakhir dengan banyak kontroversi. Permintaan tanding ulangnya ditolak.

Laga Grup F Piala Afrika 2021 antara Tunisia vs Mali banyak disorot. Laga di Stade Limbe pada Rabu (12/1/2022) waktu setempat itu banyak memperlihatkan keputusan kontroversi dari wasit Janny Sikazwe.

Di antara banyak keputusannya, yang paling fatal adalah dua kali menghentikan laga sebelum waktu normal habis. Sikazwe sempat meniup peluit panjang di menit ke-85 dan 89 menit 45 detik. Sikazwe juga tak memberi tambahan waktu meski banyak peristiwa di babak kedua pertandingan.

Imbasnya, Tunisia mencak-mencak usai laga, sebab merasa masih punya waktu untuk mengejar ketertinggalan 0-1. Pelatih dan official tim mengamuk di tepi lapangan, namun tak digubris wasit.

Tunisia berharap agar Konfederasi Sepakbola Afrika [CAF] memutuskan agar laga diulang. Namun, setelah menggelar pertemuan dengan panitia penyelenggara pada Kamis (13/1), CAF memutuskan laga tak digelar ulang.

Artinya, Mali dinyatakan tetap menang dan Tunisia kalah 0-1.

"Panitia penyelenggara telah memutuskan untuk mengabaikan protes yang diajukan oleh tim Tunisia. Untuk menyamakan hasil pertandingannya dengan skor 1-0 untuk Mali," demikian pernyataan CAF.

Sikazwe sendiri rupanya sempat meminta laga dilanjutkan, 40 menit setelah laga berakhir. Pemain Mali kemudian kembali ke lapangan, namun Tunisia menolaknya karena pemainnya sudah terlanjur beredam dengan es untuk recovery.

Pelatih Tunisia, Mondher Kebaier, menilai sosok wasit menjadi salah satu alasannya menolak melanjutkan laga. Ia menyebut sang pengadil begitu merugikan timnya.

"Ini situasi yang sulit dihadapi. Wasit juga meniup peluit panjang lima menit sebelum waktu habis di babak pertama. Kemudian dia meniupnya lagi di menit ke-89 pada babak kedua," katanya.

"Keputusannya tak bisa dijelaskan. Saya tak mengerti bagaimana dia bikin keputusan seperti itu. Kita lihat saja apa yang terjadi," katanya.

"Dia meniup peluit dan meminta kami kembali ke ruang ganti. Pemain sedang berendam es ketika meminta kami keluar. Selama 30 tahun berada di sepakbola, tak pernah saya lihat kasus seperti ini," ungkapnya.

(yna/aff)