Kampanye Piala Dunia 2 Tahun Sekali, Presiden FIFA Bawa-bawa Imigran Afrika

Adhi Prasetya - Sepakbola
Kamis, 27 Jan 2022 17:00 WIB
YOKOHAMA, JAPAN - AUGUST 07: Gianni Infantino, President of FIFA is seen wearing a face mask during the Mens Football Competition Medal Ceremony on day fifteen of the Tokyo 2020 Olympic Games at International Stadium Yokohama on August 07, 2021 in Yokohama, Kanagawa, Japan. (Photo by Alexander Hassenstein/Getty Images)
Infantino dikecam karena membawa-bawa imigran Afrika dalam kampanye Piala Dunia dua tahun sekali. Foto: Getty Images/Alexander Hassenstein
Jakarta -

Presiden FIFA Gianni Infantino mengatakan menggelar Piala Dunia setiap dua tahun sekali akan memberi banyak keuntungan, terutama bagi negara-negara Afrika. Namun ucapannya tersebut malah mendapat kritikan tajam.

Diberitakan BBC, Infantino yang ngotot mengubah durasi rentang waktu antar Piala Dunia mengatakan negara-negara yang selama ini belum pernah juara dunia akan mendapat kesempatan lebih besar jika frekuensi turnamen ditingkatkan.

Tak cuma itu, Piala Dunia setiap dua tahun sekali juga akan mengurangi tingkat kepindahan masyarakat, khususnya dari Afrika ke Eropa demi mencari penghidupan yang lebih baik.

"Kami perlu memberi kesempatan lebih dan perlu memberikan kehormatan (untuk bangsa lain). Bukan dengan memberikan donasi amal, tapi dengan membuka jalan negara-negara lain di dunia untuk berpartisipasi," ujar Infantino.

"Kami perlu memberi harapan kepada rakyat Afrika, sehingga mereka tak perlu menyeberangi Laut Mediterania untuk, mungkin, mencari kehidupan yang lebih baik, tapi lebih sering mati tenggelam," lanjut pria berdarah Swiss-Italia itu.

Kalimat di atas rupanya tak disambut baik oleh sejumlah pihak, terutama mereka yang banyak berurusan dengan imigran, seperti Kick It Out dan Human Rights Watch.

"Banyak kolega saya di Human Rights Watch mewawancarai pengungsi di seluruh dunia hampir setiap hari. Mereka tak pernah membahas soal timing penyelenggaraan Piala Dunia," ungkap Direktur Media organisasi tersebut, Andrew Stroehlein.

"FIFA adalah organisasi yang mendapat keuntungan hingga miliaran. Mereka punya dana yang diinvestasikan dalam rangka menciptakan kesempatan untuk orang-orang kurang beruntung di seluruh dunia," ujar CEO Kick It Out, Tony Burnett.

"Oleh sebab itu, sangat tak bisa diterima jika menyebut gelaran Piala Dunia setiap dua tahun sekali akan menjadi solusi untuk para imigran yang mempertaruhkan nyawa mereka demi mencari hidup lebih baik, padahal itu hanya untuk menambah keuntungan yang didapat FIFA," jelas Burnett.

MOSCOW, RUSSIA - JULY 15: Hugo Lloris of France lifts the trophy after the 2018 FIFA World Cup Russia Final between France and Croatia at Luzhniki Stadium on July 15, 2018 in Moscow, Russia. (Photo by Catherine Ivill/Getty Images)Prancis, juara bertahan Piala Dunia. Foto: Getty Images/Catherine Ivill

Infantino sudah membuat mengklarifikasi, menyebut pernyataannya disalahartikan. Poin yang ingin ia sampaikan adalah setiap pengambil keputusan yang ada di dunia ini punya tanggung jawab memperbaiki situasi yang ada saat ini. Ia juga menyebut perkataannya tak ada hubungannya dengan Piala Dunia.

Wacana penyelenggaraan Piala Dunia setiap dua tahun sekali yang dilontarkan FIFA diketahui mendapat tentangan keras dari UEFA (Eropa) dan CONMEBOL (Amerika Selatan), namun didukung oleh CAF (Afrika).

Laporan yang ada menyebutkan perubahan rentang waktu antar Piala Dunia menjadi dua tahun sekali akan membuat keuntungan FIFA bertambah 3,3 Miliar Pound atau sekitar Rp 63,75 triliun.

(adp/krs)