Momen Presiden FIFA 'Rusak' Pesta Juara Timnas Senegal

Yanu Arifin - Sepakbola
Senin, 07 Feb 2022 18:40 WIB
Gianni Infantino, FIFA President, is seen after the African Cup of Nations 2022 Third place soccer match between Burkina Faso and Cameroon at the Ahmadou Ahidjo stadium in Yaounde, Cameroon, Saturday, Feb. 5, 2022. (AP Photo/Sunday Alamba)
Presiden FIFA, Gianni Infantino. (Foto: Sunday Alamba/AP)
Yaounde -

Momen perayaan juara Timnas Senegal di Piala Afrika 2021 sedikit terganggu. Penyebabnya adalah sosok Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Senegal baru saja mencatat sejarah, dengan menjadi juara di Piala Afrika 2021. The Lions of Teranga mengalahkan Mesir 4-2 lewat adu penalti di Stadion Olemnbe, Yaounde, Kamerun, Senin (7/2/2022) dini hari WIB.

Bagi Senegal, gelar itu menjadi sejarah sebab yang pertama mereka raih di Tanah Afrika. Sudah sepantasnya perayaan gelar juaranya harus dirayakan bersama-sama.

Namun, momen tersebut sedikit terganggu. Infantino, Presiden FIFA, sempat membuat skuad Senegal menunggu sejenak untuk bisa bersorak mengangkat trofi.

Dilansir Mirror, Gianni Infantino awalnya menjadi pemberi trofi di panggung juara Piala Afrika 2021. Orang nomor satu di federasi sepakbola dunia itu kemudian memberikannya kepada Kalidou Koulibaly, kapten Timnas Senegal.

Setelahnya, Koulibaly malah tak langsung membawa trofi kepada rekan-rekannya untuk dirayakan bersama. Sebab, bek Napoli itu malah diajak berjalan oleh Infantino menjauh dari podium juara.

Saat berjalan, trofi sendiri juga dipegang Infantino dan Presiden Kamerun, Paul Biya. Terlihat Koulibaly justru cuma bisa nurut diajak bicara Infantino.

Sebelum naik ke tribune, Koulibaly akhirnya bisa mendapatkan trofinya lagi. Saat itulah, Sadio Mane dkk akhirnya bisa merayakan pengangkatan trofi Piala Afrika 2021 di podium juara.

Banyak yang mengecam sikap Infantino tersebut. Beberapa menyebut bahwa kedatangannya tak lain untuk memuluskan agenda Piala Dunia 2 tahun sekali dan gelaran Liga Super Afrika, yang sedang dikecam banyak pihak.

Seperti Liga Super Eropa, Liga Super Afrika juga dikecam karena dianggap membunuh beberapa klub yang tidak bisa bersaing dengan raksasa. Sementara terkait Piala Dunia dua tahun sekali, Gianni Infantino sempat blunder dengan mengatakan ajang itu bisa menyelamatkan imigran Afrika dari kematian akibat tenggelam.

(yna/aff)