Capello: Italia Terlalu Guardiola, Harusnya Ikut Gaya Klopp

Rifqi Ardita Widianto - Sepakbola
Sabtu, 26 Mar 2022 00:00 WIB
North Macedonia players celebrate as Italys Alessandro Bastoni reacts after his teams got eliminated at the end of the World Cup qualifying play-off soccer match between Italy and North Macedonia, at Renzo Barbera stadium, in Palermo, Italy, Thursday, March 24, 2022. North Macedonia won 1-0. (AP Photo/Antonio Calanni)
Italia gagal ke Piala Dunia 2022. (Foto: AP/Antonio Calanni)
Jakarta -

Kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2022 memicu sorotan besar. Apalagi ini kedua kalinya beruntun dan mereka berstatus juara Eropa.

Italia gagal ke Piala Dunia 2022 usai kalah dari Makedonia Utara di semifinal play-off, Jumat (25/3/2022) dini hari WIB. Sang jawara Eropa takluk 0-1 akibat gol Aleksandar Trajkovski pada masa injury time.

Ini menjadi kedua kali beruntun Gli Azzurri absen dari Piala Dunia. Pada 2018 silam, Italia yang ditangani Gian Piero Ventura disingkirkan Swedia di babak play-off dengan agregat 0-1.

Hasil ini menjadi ironi besar buat Italia karena belum setahun lalu mereka menjuarai Piala Eropa 2020. Bahkan kala itu permainan Italia mengundang apresiasi besar, karena juga mendulang hasil mengesankan.

Saat menjuarai Piala Eropa 2020, Italia tanpa kekalahan sepanjang turnamen, bahkan menyapu bersih dan tak kebobolan di fase grup. Mereka juga punya catatan tak terkalahkan di 37 pertandingan bersama Mancini, yang merentang sejak Oktober 2018 hingga September 2021.

Mancini membuat Italia memainkan sepakbola menyerang dan senantiasa mengambil inisiatif untuk menguasai bola. Gaya ini justru jadi sorotan eks pelatih Italia Fabio Capello karena dirasa terlalu bergaya tiki-taka ala Pep Guardiola.

Buat Capello, Italia tak cocok karena kultur sepakbolanya kurang berteknik seperti di Spanyol. Gaya sepakbola ala Juergen Klopp dirasa lebih pas dan sesuai dengan tuntutan kompetisi saat ini, yang bertempo tinggi dan menuntut fisik.

"Sepakbola Italia sudah meniru Guardiola selama 15 tahun. Tidak ada umpan vertikal atau kekuatan fisik, tidak ada kebiasaan untuk berduel. Di sisi lain, kita seharusnya mengikuti gaya Juergen Klopp," ujar Capello kepada Sky Sport Italia dilansir Football Italia.

"Satu-satunya yang melakukannya di Italia adalah Atalanta dan lihatlah hasil-hasil mereka. Vincenzo Italiano (Fiorentina) mencoba melakukan hal serupa, begitu juga Alexander Blessin di Genoa yang menawarkan lebih banyak lagi daripada Klopp."

"Cara bermain Jerman adalah model yang tepat untuk diikuti, kita tak punya teknik untuk mengikuti cara Spanyol. Ada tempo tinggi di kompetisi Eropa dan kita tak terbiasa dengan itu."

"Kadang-kadang saya kaget membaca sejumlah statistik. 'Pemain ini membuat 45 umpan'. Oke, tapi berapa banyak umpan kuncinya? Berapa banyak dari umpan itu yang berguna?" imbuhnya.



Simak Video "Intip Isi Hotel dan Apartemen Qatar yang Bakal Sambut Piala Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(raw/mrp)