ADVERTISEMENT

Klaim 'Cuma Friendly' Usai Timnya Kebobolan 84 Gol di Babak Kedua

Kris Fathoni W - Sepakbola
Rabu, 06 Jul 2022 12:00 WIB
Soccer : Stage Krc Genk Antalya ( Turquie ) /Illustration, Illustratie, Schollen Davy, But, Goal, Entrainement, Training, Oefenkamp, Racing,     (Photo by Tim De Waele/Getty Images)
Ilustrasi gol. (Foto: Tim De Waele/Getty Images)
Jakarta -

Bos sebuah klub berdalih 'cuma laga friendly' pada saat timnya kebobolan 84 gol di babak kedua dalam skor akhir 1-91, di laga sepakbola yang diduga ada match fixing-nya.

Laga kontroversial tersebut hadir di Sierra Leone. BBC menyebut, ada dua partai divisi kedua yang dimainkan secara berbarengan dan hasil akhirnya menentukan untuk perebutan tiket promosi.

Hal itu berbuntut pada kemunculan skor luar biasa: Kahunla pesta gol 95-0 dari Lumbebu United sedangkan Gulf FC mencukur Koquima Lebanon dengan skor 91-1.

Hasil-hasil itu kian mencuri perhatian jika menilik skor pada saat half time, yang masih terbilang wajar. Di akhir babak pertama, Kahunla unggul 2-0 dari Lumbebu United dan Gulf FC memimpin 7-1 dari Koquima Lebanon.

Dengan kata lain, di babak kedua Kahunla mencetak 93 gol ke gawang Lumbebu United sementara gawang Koquima Lebanon dibobol 84 kali oleh Gulf FC.

Dalih 'Cuma Friendly' dari Salah Satu Tim

Merespons hasil-hasil tersebut, chief executive Kahunla Rangers "dengan keras mengutuk perilakuk tidak sportif" dan manajer umum Lumbebu bilang "tidak menyadari adanya potensi manipulasi hasil pertandingan".

Komentar unik, sebut BBC, justru datang dari chairman Koquima Lebanon. Ia mengklaim bahwa pertandingan kontroversial yang melibatkan timnya itu "sebenarnya hanyalah sebuah laga friendly". Sedangkan ofisial Gulf FC menolak berkomentar.

Goal.com menambahkan, chairman Koquima Lebanon tersebut juga mengklaim bahwa pertandingan pada saat itu melibatkan "pemain-pemain dari komunitas, termasuk sejumlah pemain Koquima Lebanon."

Apapun juga, Federasi Sepakbola Sierra Leone (SLFA) tidak tinggal diam dan langsung melakukan investigasi atas dugaan pengaturan skor alias match fixing.

"Kami tidak bisa tinggal diam melihat situasi memalukan seperti ini tidak dapat hukuman," ucap Presiden SLFA Thomas Daddy Brima kepada BBC Afrika Selatan.

(krs/rin)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT