Dari Stamford Bridge ke Mestalla

Krisis Chelsea

Dari Stamford Bridge ke Mestalla

- Sepakbola
Senin, 01 Okt 2007 09:55 WIB
Dari Stamford Bridge ke Mestalla
Jakarta - Klub yang kehebatannya dibangun singkat dengan uang ratusan juta poundsterling itu sedang menukik. Stamford Bridge mendingin -- dan Mestalla bisa terasa amat panas.Semua fans Chelsea tentu sedang melantunkan lagu-lagu kesedihan. Menyaksikan permainan miskin kreasi, bomber-bomber beken yang mandul, dan kemenangan yang belum datang lagi, mereka pasti feeling blue.Semua karena Roman Abramovich, lalu Jose Mourinho. Abramovich menyulap instan klub London yang tak punya basis suporter fanatik itu menjadi klub kaya raya yang sanggup membeli pemain manapun di dunia ini. Pada aspek teknis, Mourinho meneruskan fondasi yang dibangun Claudio Ranieri dengan luar biasa. Hanya dalam dua musim ia membawakan enam gelar juara. Chelsea pun mendadak masuk kasta tinggi di belantika sepakbola Inggris, Eropa, bahkan dunia.Tapi Chelsea dalam sebulan ini bukanlah Chelsea dalam dua musim terakhir. Ketangguhan John Terry dan ketajaman Didier Drogba sedang tiada, celoteh sinis tapi cerdas dari mulut Mourinho bahkan sudah tiada. Yang sedang menggelayuti Stamford Bridge adalah wajah tak populer Avram Grant, rona murung para suporter, suasana unfamiliar di dressing room, bahkan perubahan ekspresi Abramovich. Biasanya sang bos dari Rusia itu hanya tersenyum lebar jika timnya mencetak gol kemenangan, atau diam tak banyak gerak jika kalah. Tapi hari Sabtu lalu ia mencoba membaur dengan penonton non-VIP, menonton duel Chelsea menjamu Fulham. Kali itu ia rupanya terbawa emosi begitu rupa. Dalam sebuah adegan ia tertangkap kamera larut dalam reaksi arus massa. Dia memegang kepala, menyerukan ekspresi kecewa ketika sebuah peluang gagal membuahkan gol.Ekspresi lebih bisa jadi dimunculkan Abramovich hari Rabu (3/10/2007) nanti, ketika Grant akan memimpin pasukannya menghadapi Valencia di matchday 2 Liga Champions Grup B. Boleh jadi hari itu akan menentukan banyak hal.Hasil seri 1-1 di Stamford Bridge melawan Rosenborg dua pekan lalu adalah momen Abramovich dan Mourinho mengakhiri segala hubungan kerja mereka. Dengan kalimat mutual agreement, "si orang istimewa" dari Portugal itu tidak lagi menukangi klub tersebut.Padahal di pundak Mourinho, Abramovich dan Chelsea sempat menaruh harapan besar mewujudkan ekspektasi mememangi Liga Champions. Tapi Mourinho tak pernah berhasil, seperti yang dilakukannya bersama FC Porto. Level terbaiknya baru semifinal.Yang menarik, pada April lalu Chelsea menembus babak empat besar tersebut berkat kemenangan sensasional di Mestalla. Setelah bermain 1-1 di leg pertama, Frank Lampard dkk berhasil menekuk Valencia 2-1 dan lolos dari perempatfinal yang menegangkan itu.Saat itu Chelsea pun menjadi tim Inggris pertama yang mampu mempecundangi El Che di Mestalla. Maka itulah salah satu malam terbesar Mourinho sebagai manajer Chelsea, sekaligus pil pahit untuk kubu Valencia. Tapi Mourinho sudah jadi sejarah, dan Avram Grant bertarung pula melawan sejarah di Mestalla itu. Jika ia gagal memberikan kemenangan untuk timnya, mungkin ia pun akan segera menjadi sejarah masa lalu buat Chelsea.Dengan kata lain, sepanjang 90 menit nanti Grant akan merasa kepanasan di Mestalla. Taruhan dia kali ini akan sangat besar. Abramovich tentu tak mau berlama-lama menunggu hasil kerjanya. Mungkin, karena sejak awal prioritasnya adalah kompetisi ini, maka Liga Champions bakal jadi momen terpenting untuk para manajer Chelsea. Mourinho (di)lengser(kan) setelah seri melawan Rosenborg, entah apa yang terjadi buat Grant pasca melawan Valencia. (a2s/key)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads