Karena Legenda Tak Butuh Perpisahan

Karena Legenda Tak Butuh Perpisahan

- Sepakbola
Rabu, 25 Mar 2015 08:00 WIB
Karena Legenda Tak Butuh Perpisahan
Foto-foto: Getty Images
Jakarta -

Steven Gerrard.

Ia tahu, untuk terakhir kali ia akan terlibat dalam pertarungan dengan musuh bebuyutan. Ia siap. Tulang-tulangnya bergemeretak. Kulit meremang. Mata menyipit. Gambar dari puluhan pertarungan yang ia jalani sebelumnya berkelebat berkejaran dibenak.

Ia pernah berjaya. Ia juga pernah takluk. Tapi tak sekalipun ia pernah merunduk. Tengadah. Selalu tengadah. Bermain habis-habisan hingga tetes keringat terakhir terperas dari tubuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Itu sebab ia geram. Tak rela melihat Liverpool di kandang sendiri seperti tak bernyali. Apalagi melawan Manchester United. Pantang.

Ia ingin berteriak ke rekan-rekannya, "Ini Anfield!" Urung. Gemuruh suara penonton yang menyambutnya masuk ke lapangan cukup mewakilinya.

Bola liar. Ia berlari mengejar. Juan Mata, pemain yang menjadi duri dalam daging bagi Liverpool di babak pertama pertandingan juga mengejar. Kesempatan 50-50 kata orang Inggris.

Ia mendengus. Jleger! Kaki beradu kaki. Lawan terkapar. Kalah kuat. Kalah mapan. Kalah berani. Begitu semestinya tekel dilakukan. Itu baru nyali. Anfield bergemuruh menyetujui.

Menguasai bola ia memutar badan. Matanya menangkap semua pergerakan lawan maupun kawan. Ia lepas umpan melambung jauh. Menyamping agak serong ke depan. Mungkin 20 meter, mungkin 30 meter. Tak penting. Tapi ketepatannya seperti penembak jitu. Lagi-lagi Anfield bergemuruh.

Rasa percaya diri pendukung dan pemain Liverpool meningkat. Sang jenderal kesebelasan ada di antara mereka. Ada yang memapah dan menghidupkan kembali semangat yang terpuruk. Mereka tidak lagi berjalan sendirian. Mereka tidak akan berjalan sendirian.

Ia kembali menguasai bola. Dari sudut matanya ia melihat Ander Herrera meluncur melakukan tekel. Ia berkelit. Lalu lupa. Sedetik saja. Tapi celaka.

Dalam lupa amarah gampang menelusup. Ia marah dengan tekel Herrera. Pompaan adrenalin membuat pepat nalar. Ia angkat kaki dan ia injak kaki lawan.

Terhenyak dan tersadar akan apa yang baru saja ia lalukan. Terlambat. Ah... betapa ingin ia memutar waktu. Menarik lagi injakan kakinya. Tapi hanya ingatan akan masa kecil yang bisa ia putar. Itupun di benaknya sendiri. 25 tahun silam di klub Whiston Juniors. Ketika melakukan hal semacam ia mendapat jeweran pedas di kuping dari orang tuanya. Dan mungkin sehari dua tidak boleh keluar kamar sebagai hukuman tambahan.

Kini ia hanya bisa mengangkat tangan. Pasrah mengakui kesalahan. Dan seorang wasit yang menentukan nasib. Bukan memberi hukuman sebagai pelajaran seperti orang tuanya, tapi hukuman sebagai hukuman.

Kartu merah. Kurang dari satu menit ia di lapangan. 38 detik menurut catatan.

Let me die a youngman's death
not a clean and inbetween
the sheets holywater death
not a famous-last-words
peaceful out of breath death

Begitu ditulis penyair yang terkenal sebagi salah satu dari trio penyair Merseyside Roger McGough. Menyerap kehidupan yang begitu dinamis di (kota) Liverpool di penghujung tahun 1960an, McGough memimpikan kematian muda. Bukan di saat rapuh raga.



Ia tidak ingin mati ketika Liverpool kehabisan nafas dinamisnya. Pun ia tidak ingin mati ketika ia sudah tidak mampu lagi merasakan degup jantung kota. Ia ingin mati saat darah masih bergelegak. Sebelum bijak dan bestari menghampiri.

Ia, Gerrard, kemungkinan tak pernah membaca petikan puisi itu. Untuk ukuran pemain bola ia sebenarnya sudah mulai rapuh raga. Tapi kalaupun ia hendak mati (usai karir bolanya) maka tidak ada yang lebih ia inginkan kecuali memberi helaan nafas terakhir untuk membuat (klub) Liverpool kembali menjadi yang terhebat di Britania Raya. Eropa. Dunia.

Ia ingin mati muda untuk Liverpool. Bukan dengan percikan air suci (ia seorang Katolik taat) atau beralaskan alas tidur yang bersih. Bukan dengan mengucap kata-kata bijak dipenghujung nafasnya yang tinggal satu-satu. Ia ingin mati dengan tenaga yang menyala, yang membuat Liverpool membakar lawan-lawannya.

38 detik ketika ia berada di lapangan melawan Manchester United, ia menyuntik energi lebih besar dari rekan-rekannya selama 45 menit sebelumnya. Ia membuat Anfield gegap gempita (lagi).

Jangan bandingkan Gerrard dengan Dalglish, Souness, Hansen, Rush, Kennedy, Clemence, Neal, Thompson dari Liverpool sebelumnya. Liverpool yang menjadi raja di Britania Raya dan Eropa. Itu tidak adil. Mereka nama-nama yang hidup bersamaan.

Ia, Gerrard, hidup sendirian. Yah... mungkin dibantu (sedikit) oleh Jamie Carragher untuk menghidupkan kembali Liverpool sedia kala.

Ia tidak berhasil kalau ukurannya Liga Primer. Tetapi ia memberi kenangan akan "malam itu di Istanbul". Juga tanpa dia, tidak akan ada Piala FA, Piala Liga, dan Piala UEFA. Oase prestasi bagi klub sebesar Liverpool yang hampir-hampir menjadi paria.

Apakah ia, Gerrard, sebuah legenda. Terlalu banyak kata legenda diobral. Biarlah itu menjadi perdebatan. Bagi penggemar bola, bagi pendukung Liverpool, atau siapa saja.

Tetapi seyakin-yakinnya siapapun yang mengasosiasikan diri dengan Liverpool akan merana ia tinggalkan. Ia memang bukan Gerrard yang dulu lagi. Tapi ia tetaplah Gerrard.

Juga akan selalu ada pemain yang akan menggantikannya. Tetapi kehilangan pemain sekaliber Gerrard tetaplah untuk (setidaknya) sementara menimbulkan hampa.

Dan jangan anggap lawan tak akan kehilangan. Mungkin mereka lega. Tapi apa guna bertanding kalau tidak menguji melawan yang terbaik. Dan Gerrard adalah salah satu yang terbaik.

Ia, Gerrard, mungkin tak peduli. Mungkin kecewa bahwa ia harus berpisah secara tidak indah. Tetapi selama ia meninggalkan arti kata-semangat-nyawa seperti apa sebenarnya menjadi pemain Liverpool yang sesungguhnya, ia (sekali lagi) tak akan peduli.

Ia mengerti, legenda tak membutuhkan kata perpisahan. Ia terus hidup. Ia bergerak di ranah cerita, berimbuh dengan angan-angan. Hanya mereka yang menjadi fana yang membutuhkan perpisahan untuk bersendu sedan.



====

* Penulis pernah menjadi wartawan di sejumlah media dalam dan luar negeri. Sejak tahun 1997 tinggal di London dan sempat bekerja untuk BBC, Exclusive Analysis dan Manchester City. Penggemar sepakbola dan kriket ini sudah pulang ke tanah air dan menjadi Chief Editor CNN Indonesia. Akun twitter: @dalipin68

(din/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads