Polisi Inggris Tangkap 86 Orang Karena Rusuh di Final Euro 2020

Adhi Prasetya - Sepakbola
Selasa, 13 Jul 2021 19:30 WIB
LONDON, ENGLAND - JULY 11: Police walk down Olympic Way during the UEFA Euro 2020 Championship Final between Italy and England at Wembley Stadium on July 11, 2021 in London, England. (Photo by Alex Pantling/Getty Images)
Polisi berjaga-jaga di sekitar stadion Wembley selama final Euro 2020. Foto: Getty Images/Alex Pantling
Jakarta -

Kepolisian Metropolitan London (Met Police) menahan 86 orang dalam operasi pengamanan final Euro 2020. Mereka ditangkap karena mengganggu kenyamanan publik.

Dilaporkan Sky Sports, dari jumlah tersebut, sebanyak 53 orang diringkus di sekitar Wembley. Alasan spesifik penangkapan pun beragam, mulai dari melakukan penyerangan, mabuk-mabukan, hingga pelanggaran ketertiban umum.

Kerusuhan ini juga mengakibatkan 19 orang polisi terluka. Satu orang di antaranya mengalami copot gigi, dan ada pula yang mengalami patah tangan.

Di dalam stadion, sekelompok suporter tanpa tiket juga berhasil menerobos penjagaan di pintu masuk stadion. Anak pelatih Italia Roberto Mancini, yakni Andrea, menjadi korbannya.

Ia mengaku tempat duduknya diserobot salah satu penonton gelap tersebut dan sempat terpaksa duduk di tangga stadion. Baru di babak kedua ia mendapat kursi lain. Meski begitu, pihak Wembley mengaku jumlah penonton gelap itu 'kecil'.

Laurence Taylor dari Met Police mengatakan bahwa pengamanan di dalam dan di luar stadion memang berbeda. Polisi mengurusi keamanan di luar, sedangkan di dalam menjadi tanggung jawab pihak Wembley.

Kerusuhan ini diperkirakan karena antusiasme berlebihan yang melingkupi sejumlah suporter Inggris. Bagaimanapun, laga melawan Italia merupakan final turnamen besar pertama yang dijalani The Three Lions sejak Piala Dunia 1966.

Meski begitu, kejadian ini tak bisa diterima. Federasi Sepakbola Inggris (FA) mengaku akan mengambil langkah tegas bagi suporter yang terbukti memaksa masuk ke dalam stadion tanpa tiket tersebut.

LONDON, ENGLAND - JULY 11: Fans show their support as they make their way down Olympic Way during the UEFA Euro 2020 Championship Final between Italy and England at Wembley Stadium on July 11, 2021 in London, England. (Photo by Alex Pantling/Getty Images)Suporter yang tumpah ruah di luar Wembley membuat polisi bekerja ekstra keras menjaga keamanan. Foto: Getty Images/Alex Pantling

Kevin Nolan, eks pesepakbola Inggris, mengatakan kepada BBC Radio 5 Live bahwa sikap barbar sejumlah suporter itu bisa mengganggu peluang Inggris ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 mendatang.

"Itu sangat mengkhawatirkan. Apa yang sudah terjadi bisa merusak peluang kita menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030. Kita berbicara soal kelompok minoritas yang berperilaku bodoh tersebut," ujar Nolan.

Inggris kalah adu penalti dari Italia di final Euro 2020, membuat puasa gelar mereka di turnamen besar berlanjut.

(adp/aff)