Josh Cavallo, James Adcock, dan Stigma Gay di Lapangan Hijau

Yanu Arifin - Sepakbola
Sabtu, 13 Nov 2021 14:00 WIB
LONDON, ENGLAND - JUNE 29: Manuel Neuer of Germany applauds the fans after the UEFA Euro 2020 Championship Round of 16 match between England and Germany at Wembley Stadium on June 29, 2021 in London, England. (Photo by Frank Augstein - Pool/Getty Images)
Kiper Timnas Jerman dan Bayern Munich, Manuel Neuer. (Foto: Getty Images/Frank Augstein - Pool)
Jakarta -

Sepak bola makin bergerak maju. Para pemain yang mengaku gay makin diterima di lapangan hijau. Namun, stigma miring tetap akan terus ada.

Beberapa waktu lalu, Josh Cavallo dengan berani menyatakan dirinya gay. Pemain Adelaide United itu menjadi pemain profesional pertama yang menyatakan dirinya gay.

"Saya pesepakbola dan seorang gay. Yang saya inginkan adalah bermain dan diperlakukan sama," katanya dalam cuplikan video yang dibagikan klubnya.

Langkah yang sama kemudian dilakukan James Adcock. Wasit asal Inggris, yang memimpin pertandingan dari Liga Amatir hingga Premier League, juga dengan tegas menyatakan dirinya gay.

josh cavallo adelaide united pesepakbola gayJosh Cavallo, pemain Adelaide United yang mengaku dirinya gay. Foto: Twitter @AdelaideUnited

Dalam perayaan National Coming Out Day bulan lalu, ia bercerita bagaimana persepsi yang diterimanya ketika mengungkap dirinya gay. Adcock mengaku senang bisa diterima.

"Ketika saya beralih dari menjadi wasit paruh waktu ke penuh waktu penuh di sepak bola, beberapa tahu dan beberapa tidak," katanya, seperti dilansir BBC beberapa waktu lalu.

LONDON, ENGLAND - NOVEMBER 08:  Referee James Adcock during the Sky Bet Championship match between Millwall and Brentford at The Den on November 8, 2014 in London, England.  (Photo by Jordan Mansfield/Getty Images)Wasit James Adcock menyatakan dirinya gay. Foto: Jordan Mansfield/Getty Images

"Sekarang semua rekan saya tahu, dan itu hanya norma. Dan, sejujurnya, ada minat dari rekan kerja yang mengatakan, 'Saya bangga padamu, James, bahwa kamu bisa menjadi gay secara terbuka dalam olahraga,' karena mereka mengetahui hambatannya masih ada," katanya.

Apa yang diekspresikan Cavallo dan Adcock sebenarnya mulai diterima banyak pihak di lapangan hijau. Banyak bintang-bintang top memuji keduanya karena dianggap membawa sepak bola bergerak ke arah yang lebih terbuka bagi semua kalangan.

Meski begitu, tetap ada stigma miring dialamatkan kepada mereka yang berani mengekspresikan dirinya.Homofobik masih ada, dan sepak bola belum sepenuhnya menjadi ruang yang aman.

Masih Ada Stigma Buruk

Di ajang Piala Eropa 2020 lalu misalnya, masih terdengar chant atau nyanyian homofobik di tribune stadion. Spanduk-spanduk yang menyerang LGBT juga terbentang.

Hal itu sendiri disebabkan karena UEFA tak tegas. Asosiasi Sepak Bola Eropa itu masih 'setengah hati' menerima keberadaan LGBT di lapangan hijau.

Begitu juga sikap dingin FIFA, sebagai induk asosiasi sepakbola sedunia. Terkait gelaran Piala Dunia 2022 di Qatar misalnya, isu LGBT sempat panas karena negara teluk itu punya aturan ketat soal kampanye LGBT. Sejak 2010, baru pada 2020 Qatar memutuskan akan menerima bendera LGBT di dalam stadion.

LONDON, ENGLAND - DECEMBER 09: A Stonewall Rainbow laces flag during the Premier League match between West Ham United and Arsenal FC at London Stadium on December 09, 2019 in London, United Kingdom. (Photo by Julian Finney/Getty Images)Bendera pelangi LGBT di kompetisi Premier League. Foto: Julian Finney/Getty Images

Di tengah stigma yang terus mengalir, upaya perlawanan tetap hadir dari lapangan hijau. Seperti yang coba diperlihatkan Manuel Neuer, kiper Timnas Jerman, di ajang Euro 2020 kemarin.

Pemain yang membela klub Liga Jerman, Bayern Munich, itu mengenakan ban kapten berwarna pelangi, yang menjadi simbol keberagaman LGBT. UEFA, yang sempat menginvestigasinya, akhirnya mengurungkan niatnya karena protes global pecinta sepak bola.

MUNICH, GERMANY - JUNE 15: Manuel Neuer of Germany reacts during the UEFA Euro 2020 Championship Group F match between France and Germany at Football Arena Munich on June 15, 2021 in Munich, Germany. (Photo by Matthias Hangst/Getty Images)Kiper Jerman Manuel Neuer mengenakan ban kapten pelangi simbol LGBT di ajang Euro 2020. Foto: Matthias Hangst/Getty Images

Adcock mengakui, pr besar saat ini adalah melawan stigma di lapangan hijau. Ia berharap dengan pemikiran masyarakat yang makin maju, dia dan para gay di lapangan hjau bisa diterima total ke depannya.

"Masih ada stigma tentang orang menjadi homoseksual dalam olahraga," katanya.

"Akan selalu ada di benak saya apa yang mungkin diteriakkan seorang penggemar jika mereka berpikir ada keputusan yang meragukan terhadap tim mereka.

"Tapi mudah-mudahan seiring dengan perkembangan masyarakat, jika ada gerakan atau komentar homofobia, ada orang di sekitar yang akan melaporkannya," katanya.

Hal senada juga dilontarkan Cavallo. Ia mengaku menjadi diri sendiri akan diterima banyak orang.

"Saya ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa menjadi diri sendiri dan bermain sepakbola tidak masalah. Jika ada, Anda akan mendapatkan lebih banyak rasa hormat dari orang-orang," kata pemain 21 tahun tersebut.

(yna/yna)