PSIS Semarang Dirikan SSB, Berniat Jaring Bakat Muda

Angling Adhitya Purbaya - Sepakbola
Senin, 01 Mar 2021 21:15 WIB
PSIS Semarang membuat sekolah sepakbola.
PSIS Semarang mendirikan sekolah sepakbola. (Foto: detikcom/Angling Adhitya Purbaya)
Jakarta -

PSIS Semarang membuka sekolah sepakbola untuk usia 6 tahun hingga 18 tahun. Laskar Mahesa Jenar ingin mencari bakat muda.

Dengan pelatih profesional dan fasilitas lapangan standar FIFA, sekolah sepakbola bernama PSIS Development diharapkan menumbuhkan bibit berbakat untuk tim kebanggaan kota Atlas.

"Alhamdulillah PSIS Development dilaunching untuk menunjukkan keseriusan PSIS dalam membangun tim di masa depan. Nantinya di PSIS Development akan diajarkan bagaimana bermain sepak bola modern dan segala ruang lingkup sepak bola baik di dalam mau pun luar lapangan," kata CEO PSIS, Yoyok Sukawi di Stadion Citarum, Senin (1/3/2021).

"Nantinya PSIS Development juga akan terus kami kembangkan. Jika sementara belum melayani dengan sistem boarding atau asrama, kedepannya pelan-pelan akan kami kembangkan hal tersebut. Mohon doa dan dukungannya," imbuhnya.

Muhammad Ridwan yang merupakan direktur akademi PSIS menjelaskan PSIS Developmeny diisi pelatih-pelatih berlisensi seperti dirinya (Lisensi A AFC), Khusnul Yakin (Lisensi B AFC), Imam Rohmawan (Lisensi B AFC), Rifqi Hadiyanto (Lisensi B AFC), dan Riyadi (Pelatih Kiper Lisensi C).

"Tidak membatasi jumlah pendaftar. Beriringan jumlah siswa, bisa menambah jumlah pelatih. Agar efektif satu pelatih menangani 16 orang maksimal," kata Ridwan.

Selain pelatihan teknik dan taktik di lapangan, PSIS Development juga akan menyediakan sesi gym, kelas analisa video, kelas video, kelas program nutrisi, dan kelas konsultasi.

"Siswa juga akan mendapatkan 3 set baju latihan, rompi, kaoskaki, satu bola, ada tas punggung dan tumbler," jelasnya.

"Tempat latihan Alhamdulillah punya yang reperesentatif. Menggunakan lapangan Citarum yang berstandar FIFA," imbuh Ridwan.

Protokol kesehatan diberlakukan termasuk dengan memberikan rompi kepada masing masing siswa agar tidak bergantian. Begitu juga dengan tumbler.

"Kami siapkan protokol kesehatan mulai mereka berangkat sampai tidur lagi. Salah satunya mereka harus bawa masker sendiri, hand sanitizer sendiri. Itulah kenapa kita beri satu set rompi agar tidak gantian rompi. Kenapa berikan tumbler, agar tidak berbagi," tandasnya.

Ridwan berharap PSIS di masa depan bisa memiliki pemain berbakat yang sudah dilatih sejak dini. Meski demikian memang masih ada jalur perekrutan pemain termasuk dari luar.

"Nantinya akan ambil beberapa pemain terbaik dari pro akademi. Tapi kami tidak menutup rekrutmen pemain dari luar," katanya.

Berminat bergabung dengan SSB yang didirikan PSIS?

(alg/cas)