Persis Solo Dilaporkan 18 Pemain karena Tunggak Gaji

Muhammad Robbani - Sepakbola
Jumat, 13 Agu 2021 17:00 WIB
Latihan Persis Solo
Persis Solo (Foto: Dok.Liga-Indonesia.id)
Jakarta -

Persis Solo digugat oleh 18 pemain karena menunggak gaji. Tapi cuma 7 pemain yang perkaranya diproses APPI dengan jumlah tunggakan sebesar Rp 2.332.900.000.

Permasalahan penunggakan ini sudah diperkarakan oleh 18 pemain ke Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI). Mereka berharap ada titik terang dari masalah yang terjadi pada musim 2020.

Menindaklanjuti laporan pemain Persis, APPI kemudian langsung membawanya ke National Dispute Resolution Chamber (NDRC). Sayang hanya 7 pemain yang perkaranya bisa dilanjutkan.

"APPI mengirimkan gugatan 7 Pesepakbola dari total 18 Pesepakbola terhadap klub Persis Solo melalui NDRC Indonesia, atas tunggakan gaji klub yang belum dibayarkan kepada mereka dengan total tunggakan keseluruhan sejumlah 2.332.900.000 (Dua Milyar Tiga Ratus Tiga Puluh Dua Juta Sembilan Ratus Ribu Rupiah)," kata APPI Executive Committee Riyandi Ramadhana saat memberikan keterangan virtual, Jumat (13/8/2021).

"APPI hanya dapat mengajukan 7 gugatan karena hanya 7 itulah yang punya salinan kontrak. 11 pemain lainnya tak dapat salinan dari klub sehingga tak bisa mengajukan gugatan ke NDRC Indonesia," ujarnya menambahkan.

Andai tak dilunasi, Persis Solo juga berpotensi terkena sanksi larangan mendaftarkan pemain selama 3 periode pendaftaran pemain. Jika terkena sanksi itu, otomatis Persis tak akan bisa mengikuti kompetisi Liga 2 2021.

Tunggakan Persis Solo ini terjadi pada tahun 2020. Itu berarti sebelum Persis diambil alih oleh Kaesang Pangarep yang kini menjadi Direktur Utama PT Persis Solo Saestu (PSS).

Tetapi APPI tak memandang pergantian kepemilikan. Siapapun pemilik klub, kewajiban melunasi hutang tetap melekat ke klub.

"Siapapun pengelola yang baru atau manajemen baru, saat takeover atau ambil alih, maka harus tanggung jawab terhadap situasi klub itu, termasuk utang piutangnya. Jadi tak bisa misalkan ada masalah lama terhadap klub itu, yang baru lepas tangan berdalih itu tanggung jawab yang lama," kata Legal APPI Jannes H. Silitonga.

"Itu harus dibuktikan pada saat takeover dari yang lama ke baru. Maka pengelola yang baru harus tanggung jawab, siapapun klubnya, kebetulan yang ajukan dari Persis Solo. Makanya kami sampaikan, karena kami dengar dari pemain, pengelola yang baru sampaikan, itu tanggung jawab yang lama katanya. Makanya kami sampaikan saat takeover ada audit, maka saat audit itu pengelola yang baru harus tahu, termasuk ada utang piutang," ucapnya.

Selain penunggakan itu, Persis juga bermasalah karena tak memberikan salinan kontrak ke 11 pemainnya. Mereka yang tak punya salinan kontrak itu pun masalah penunggakannya tak bisa diproses APPI ke NDRC Indonesia.

APPI tetap akan berupaya untuk membantu 11 pemain lainnya yang juga tertunggak gajinya. Akan dicari jalan keluarnya agar klub tak lepas dari tanggung jawab.

"Meskipun tak punya kontrak, ini memang menghambat ke NDRC. Lalu apakah terhadap 11 pemain ini menutup mereka menuntut haknya? Tentu tidak, kami sebagai perwakilan pemain akan berjuang maksimal," tutur Janes.

"Jika 1 pintu tertutup, pasti akan ada pintu lain yang bisa dibuka. Kami tak akan berhenti, itu pasti akan lakukan untuk membantu menuntut haknya," ucapnya.

(aff/krs)