Persiraja Banda Aceh: Wadah Pemain Tanah Rencong Unjuk Gigi

Muhammad Robbani - Sepakbola
Jumat, 17 Sep 2021 10:40 WIB
Presiden Persiraja Banda Aceh Nazarudin Dek Gam
Presiden Persiraja Banda Aceh Nazarudin Dek Gam ungkap misi khusus klubnya. (Foto: Muhammad Robbani/detikSport)
Jakarta -

Persiraja Banda Aceh mengemban misi khusus dalam keikutsertaan mereka di BRI Liga 1 2021. Laskar Rencong mau jadi etalase bakat-bakat asli Aceh.

Ada banyak pemain lokal yang diberdayakan Persiraja pada gelaran Liga 1 kali ini. Mulai dari Zahran Iqbal, Fakhrurrazi Quba, Agus Suhendra, Mukhlis Nakata, Arif Nulhakim, Rolas Divaio, Defri Rizki, Muhammad Mikail, Subhan Fajri, hingga Ramadhan.

Cuma sebagian kecil dari skuad Persiraja saat ini yang bukan berasal dari Aceh. Beberapa di antaranya adalah Eeng Supriyadi atau Aji Bayu Putra, dan tentunya empat pemain asing dalam tim.

Presiden Persiraja Nazarudin Dek Gam percaya Aceh punya pemain-pemain berbakat. Hanya saja kurang disorot karena Aceh belum dikenal sebagai penghasil pesepakbola.

Kehadiran Persiraja di level tertinggi sepakbola Indonesia menjadi berkah tersendiri bagi Dek Gam. Baginya ini adalah kesempatan untuk mewujudkan impian memperkenalkan pemain-pemain asli Aceh.

Dengan mengumpulkan pemain Aceh di Persiraja, Dek Gam yakin mereka punya motivasi lebih kala bertanding. Kebetulan, masyarakat Aceh juga menggilai sepakbola sebagaimana terlihat pada pekan pertama Liga 1 2020.

Pertandingan antara Persiraja melawan Bhayangkara FC pada 29 Februari 2020 banjir penonton. Sekitar 20 ribu pasang mata memenuhi Stadion Harapan Bangsa, Kota Banda Aceh.

"Bicara gaji, kami ini tak seberapa dengan klub lain. Tapi bicara semangat kedaerahan Persiraja lebih dari klub lain. Memotivasi pemain Persiraja cukup gampang. Saya katakan ke pemain bahwa kalian bermain membawa nama daerah. Kalau mau terkenal maka harus main dengan baik, ngotot, dan sungguh-sungguh," kata Dek Gam saat ditemui di Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (16/9/2021).

"Makanya banyak pemain Aceh yang tak terkenal di tim kami, tetapi mereka bisa mengalahkan pemain dengan nama. Semangat kedaerahan adalah modal terbesar Persiraja. Pasti pemain kami mau menampilkan yang terbaik di depan publik Aceh. Kami mengandalkan banyak pemain lokal bukan karena masalah finansial, buktinya kami punya empat pemain asing," ujarnya menjelaskan.

"Kami mau Aceh jadi lumbung sepakbola. Sekarang hampir semua klub sepakbola ada pemain asal Aceh. Di Persija ada, PSS Sleman, atau Madura United. Nah harapan saya Persiraja menjadi pabriknya putra-putra Aceh untuk berkibar di sepakbola Indonesia. Itu yang mau saya capai, jadi bukan hanya mengejar kemenangan dan keuntungan," katanya lagi.

Dengan modal pemain lokal, skuad Persiraja memang kerap diremehkan dan disebut-sebut tak cukup layak untuk bertahan di Liga 1. Tak ada nama-nama beken yang direkrut untuk mengangkat performa tim.

Tak heran jika ada anggapan bahwa Persiraja cuma akan menjadi penggembira di BRI Liga 1 sejak promosi dari Liga 2 2019. Meski begitu, sejauh ini kiprah Persiraja di Liga 1 tak bisa dibilang jelek.

*ke halaman berikutnya