Semrawut Liga 2 Sejauh Ini, Huff...

Muhammad Robbani - Sepakbola
Sabtu, 13 Nov 2021 17:15 WIB
Persis Solo sukses menumbangkan PSG Pati pada laga pertama Liga 2 2021. Laskar Samber Nyawa menang 2-0 di Stadion Manahan, Solo, Minggu (26/9/2021).
Ilustrasi Liga 2 (Foto: dok. PSG Pati)
Jakarta -

Liga 2 2021 sudah berjalan tujuh pekan sejak pertama kali kick off mulai 26 September. Tapi gelarannya terkesan semrawut dari berbagai pelanggaran yang terjadi.

Belum dimulai saja, Liga 2 sudah diwarnai dengan penunggakan gaji. empat klub Liga 2 masih tersangkut masalah penuggakkan gaji saat kompetisi level 2 sudah dimulai.

Kalteng Putra, PSKC Cimahi, Persijap Jepara, dan Persekat Kabupaten Tegal, tetap lolos verifikasi meski masih menunggak gaji. Meski begitu, para klub itu tetap terkena sanksi yakni larangan mendaftar pemain selama tiga periode bursa transfer.

Idealnya empat klub itu tak bisa berkompetisi lantaran tak bisa lolos verifikasi karena menahan hak para pemain yang pernah mengeluarkan keringatnya buat mereka.

Pada perjalanannya, Kalteng Putra tetap merekrut beberapa pemain baru. Karena dalam kondisi terhukum, para pemain baru itu tak bisa memperkuat Kalteng Putra sehingga perekrutannya menjadi sia-sia.

"Ada beberapa klub menunggak gaji. Kalau di Liga 1 karena sistem profesional, level klubnya lebih tinggi, maka tidak bisa ikut kompetisi jika tidak bisa selesaikan (tunggakan). Ada 9 klub (Liga 1) yang menyelesaikan dan akhirnya bisa ikut kompetisi. Di Liga 2, PSSI melakukan pendampingan, 24 klub mendapatkan subsidi dari PT LIB Rp 800 juta," kata Wakil Ketua Umum PSSI Iwan Budianto pada 28 September terkait klub-klub Liga 2 penunggak gaji tetap lolos verifikasi.

"PSSI menjamin bahwa klub tersebut tidak mendapatkan subsidinya sebelum menyelesaikan tunggakan gaji. Tapi mereka tetap bisa berkompetisi. Apabila mereka tidak bisa menyelesaikan penunggakan gaji, kami sudah menghitung, ada 6 klub dengan nilainya kami bisa selesaikan dari pemotongan subsidi yang kami berikan," ujarnya lagi.

Selain empat klub itu, ada juga kasus tunggakan 18 pemain Persis Solo yang kasusnya masih belum diputuskan oleh NDRC (National Dispute Resolution Chamber). Masalah ini sempat jalan di tempat lantaran 11 pemain di antaranya tak punya salinan kontrak sebagai bukti gaji mereka ditunggak Persis.

Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) baru mendapatkan salinan kontrak 18 pemain Persis Solo pada awal Oktober. Gugatan tunggakan gaji pun baru diajukan ke NDRC saat kompetisi Liga 2 sudah berjalan.

PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) pun ikut kena sorot karena menunjuk Kalteng Putra sebagai salah satu tuan rumah fase grup Liga 2. Sudah meloloskan verifikasi Kalteng Putra meski menunggak gaji, ditunjuk menjadi tuan rumah pula.

Logo PSSILogo PSSI (Amalia Dwi Septi/detikSport)

Selain itu, Liga 2 juga identik dengan aksi kekerasan dilakukan para pemain klub peserta. PSG Pati sempat disorot karena aksi tak sportif dua pemainnya dalam laga yang sama kontra Persijap Jepara pada 11 Oktober.

Heri Setiawan dari PSG Pati menepak tangan wasit. Ada juga aksi sikutan dari Nurhidayat Haji Haris terhadap pemain Persijap. Baik Heri Setiawan dan Nurhidayat pun dijatuhi sanksi dari Komdis PSSI.

Dari hasil sidang pertama Komdis PSSI untuk musim 2021, pelanggaran paling banyak terjadi di Liga 2 dengan jumlah 14 kasus. Sementara Liga 1 ada 12 kasus.

Di halaman selanjutnya, ada keanehan-keanehan kepemimpinan wasit dan kasus pemain 'ilegal'.

(klik halaman selanjutnya)

Ada juga keanehan-keanehan kepemimpinan wasit yang kerap mewarnai laga Liga 2. Salah satunya pada laga Rans Cilegon FC kontra Badak Lampung, pada 19 Oktober.

Laga yang berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan Rans Cilegon itu tak lepas dari kontroversi. Rans Cilegon dihadiahi tendangan penalti yang sukses dikonversi menjadi gol oleh Tarik El Janaby.

Masalahnya, tak ada hal yang membuat Badak Lampung pantas mendapat hukuman. Badak Lampung dihukum penalti karena pemainnya dinyatakan handsball, meski dalam tayangan ulang tak ada bukti yang bisa membenarkan keputusan wasit.

Setelah itu, muncul isu pengaturan skor yang dimulai dari laporan Manajer Perserang Serang Babay Karnawi. Ia melaporkan pelatih dan lima orang pemainnya.

Komdis PSSI akhirnya menjatuhkan 5 pemain Perserang itu plus 1 pemain Persic Cilegon. Sementara Putut Widjanarko eks pelatih Perserang bebas dari tuduhan itu karena tak terbukti terlibat.

Kasus pengaturan skor ini kembali membuka mata bahwa Liga 2 belum lepas dari isu ini. Tentu masih ingat betul kasus serupa pernah ramai dibahas seusai pemain PS Mojokerto Krisna Adi yang sengaja menendang bola ke luar gawang saat mengeksekusi tendangan penalti pada Liga 2 2018.

Teranyar, Liga 2 kembali diwarnai kabar tak sedap. PSG Pati memainkan pemain ilegal ke dalam pertandingan pertama putaran kedua melawan Persis Solo pada 3 November.

Masalahnya, I Gede Sukadana sedang terkena hukuman Komdis PSSI yakni larangan bermain karena ulahnya pada putaran pertama Liga 2 bersama PSMS. Ia melakukan tekel keras ke pemain Semen Padang dan dikartu merah pada 14 Oktober 2021.

Terkait pelanggaran keras itu, Komdis PSSI pun memberikan larangan bermain sebanyak dua laga kepada I Gede Sukadana. Seharusnya, mantan pemain Bali United itu baru bisa bermain pada pekan ketujuh Liga 2.

Hasilnya, PSG pun dikurangi 3 poin dan dinyatakan kalah 0-3 dari Persis Solo. Adapun PSG mengaku tak tahu bahwa pemain barunya itu sedang terkena hukuman.

Berbagai kasus ini harus menjadi perhatian serius PSSI dan PT LIB. Liga 2 yang statusnya profesional seperti Liga 1, banyak menampilkan kasus-kasus yang semestinya tak terjadi sehingga memberikan kesan yang negatif di masyarakat.

(aff/adp)