JIS Diusulkan Berubah Nama Jadi Stadion M.H. Thamrin

ADVERTISEMENT

JIS Diusulkan Berubah Nama Jadi Stadion M.H. Thamrin

Sudrajat - Sepakbola
Rabu, 01 Jun 2022 05:00 WIB
PT Jakarta Propertindo (JakPro) mengungkap progres pembangunan Jakarta International Stadium (JIS). Pembangunan stadion tersebut telah mencapai 98%.
Stadion JIS diusulkan berubah nama menjadi Stadion M.H. Thamrin. (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Wacana penggantian nama Stadion Jakarta International Stadium (JIS) kembali digaungkan. Stadion anyar itu diusulkan berubah nama menjadi Stadion M.H. Thamrin.

Penamaan Jakarta International Stadium (JIS) dianggap melanggar UU no. 24/2009 karena menggunakan Bahasa Inggris. Selain itu, nama 'JIS' sepertinya tidak dapat memacu semangat untuk memajukan persepakbolaan nasional karena tidak menggunakan nama tokoh sejarah yang inspiratif.

Atas dasar itu, sejarawan JJ Rizal mengusulkan agar penamaan JIS diubah menjadi Stadion M.H. Thamrin. Alasannya, Mohammad Husni Thamrin adalah pahlawan nasional sekaligus tokoh Betawi, warga asli Jakarta. Dia juga dikenal sebagai penggila bola dan punya visi sepakbola modern Indonesia sebagai reaktor kebangsaan.

"Visi sepakbola Thamrin tumbuh dari kampung-kampung. Ia melihat sepakbola Pribumi bermutu tapi didiskriminasi. Ia selalu gunakan posisinya di Gementeraaden (Dewan Kota) dan Volksraad (Dewan Rakyat), untuk menyuarakan isu ini," papar JJ Rizal saat berbincang dengan detikcom, Selasa (31/5/2022).

Pendiri dan direktur Penerbit Komunitas Bambu itu menyebut, Mohammad Husni Thamrin meyakini sepakbola bukan sekadar olahraga rakyat, melainkan medium gerakan kebangsaan.

Mohammed Husni Thamrin bersama para anggota Volksraad Batavia tahun 1935.Mohammed Husni Thamrin bersama para anggota Volksraad Batavia tahun 1935. (Foto: KITLV)

Riset sejarah oleh Srie Palupi, "Politik dan Sepakbola", membenarkan hal itu. Sepakbola yang masuk Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 berbarengan dengan ideologi-ideologi besar -nasionalisme, komunisme, islamisme, sosialisme- dan diterima serta tumbuh menjadi counter culture terhadap perkembangan masyarakat serta sejarah kolonial. Inilah jalan keluar yang ditawarkan Thamrin.

Visi sepakbola Thamrin terbukti. Di negeri jajahan, profesionalisme itu tumbuh karena para pemain merumput dengan keyakinan mempertaruh sejarah dan kultur sepakbola sejak diterima di negerinya, yaitu sebagai counter culture kolonialisme.

"Dari sini, ia membangun sepakbola modern Indonesia sebagai reaktor kebangsaan, sehingga Jakarta jadi ibukota sepakbola kebangsaan Indonesia. Inilah warisan Thamrin yang berharga dan khas, tapi terlupa," tegas JJ Rizal.

Darma bakti dan warisan Thamrin, kata anggota tim penulis penulis buku muatan Ragam Budaya Betawi (2001) itu, begitu besar kepada sepakbola serta jadi utang budi tak ternilai. Seharusnya ini cukup menggugah kesadaran buat mencicil, dan mengganti nama JIS dengan M.H. Thamrin Stadion Internasional Jakarta adalah awal yang baik.

"Bangunan monumental harus diimbangi nama dari amal sejarah yang monumental dan tak kering-kering mengalirkan keteladanan bagi sepak bola serta kebangsaan kita hari ini juga masa depan," tuturnya.

Sebagai wujud keseriusan, JJ Rizal memprakarsai petisi melalui www.change.org agar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengganti nama JIS menjadi Stadion M.H. Thamrin.

Simak juga 'Puncak HUT DKI Digelar di JIS, Niki-Rich Brian Bakal Hadir':

[Gambas:Video 20detik]



(bay/adp)

ADVERTISEMENT