ADVERTISEMENT

Eksklusif

Liga Indonesia Bisa Menuntut Ilmu hingga ke Negeri Shin Tae-yong

Muhammad Robbani - Sepakbola
Selasa, 28 Jun 2022 09:00 WIB
Jakarta -

Dalam wawancara eksklusif dengan detikSport, Shin Tae-yong membahas pembinaan sepakbola di Korea Selatan. Ia merasa Indonesia, dengan Liga 1-nya, bisa belajar dari K League alias Liga Korea.

K League sebenarnya tak punya banyak klub, malah K League 2 baru ada sejak 2013. Tapi Korea tak pernah absen ke Piala Dunia sejak pertama kali ikut pada edisi 1986.

K League 1 musim 2022 cuma diikuti oleh 12 klub. Sementara K League 2 lebih sedikit yakni 11 klub, itu pun sudah lebih baik dibanding musim sebelumnya (2021) yang cuma diikuti oleh 10 klub.

Tapi Korea tak pernah kehabisan talenta-talenta berbakat yang namanya harum hingga ke Eropa. Dari era Cha Bum-kun yang main di Jerman akhir 1970-an, hingga Son Heung-min di masa kini.

Sementara Indonesia sudah lebih dulu punya piramida kompetisi berjenjang dibanding Korea. Saat menggulirkan kompetisi profesional sejak 1994, Indonesia sudah punya kompetisi level 2 dengan nama Divisi 1 yang dimulai sejak 1995.

Meski begitu, membandingkan sepakbola Korea dan Indonesia bagaikan bumi dan langit. Saat Korea sudah pernah mencapai semifinal Piala Dunia pada 2002, Indonesia belum sekalipun menjadi yang terbaik di level regional, yakni Piala AFF.

Shin Tae-yong cukup paham dengan persepakbolaan Korea karena menghabiskan karier profesionalnya selama 13 tahun di level klub. Kini ia punya tugas dari PSSI untuk memajukan sepakbola Indonesia dengan pengalamannya dari sepakbola Korea.

"Di Liga 2 Korea (K League 2) musim lalu (2021) memang baru ada 10 tim, tetapi tahun ini ada tim baru namanya Gimpo FC sehingga sekarang ada 11 tim," kata Shin Tae-yong, dalam wawancara eksklusif bersama detikSport.

"Jadi di Korea ini sistem pembinaan usia dini sangat baik, sudah ada pembinaan pemain 10-15 tahun yang dikembangkan dengan baik. Tidak banyak perbedaan kualitas antara Liga 1 dan Liga 2 Korea," ujarnya menambahkan.

Pelatih timnas Indonesia Shin Tae-yong menjawab pertanyaan detikSport dalam wawancara eksklusif.Pelatih timnas Indonesia Shin Tae-yong menjawab pertanyaan detikSport dalam wawancara eksklusif. Foto: Andhika Prasetia/detikcom

"Jadi otomatis Timnas Korea menjadi kuat, sehingga bisa selalu lolos ke Piala Dunia. Korea bisa lolos ke Piala Dunia bukan cuma karena memang jago bermain sepakbola, tapi itu semua ada prosesnya dari awal."

Saat datang ke Indonesia, Shin Tae-yong mendapati fakta bahwa sepakbola tanah air punya banyak pekerjaan rumah. Pekerjaannya ternyata lebih berat dari yang ia bayangkan sebelum menerima tawaran PSSI.

Misalnya minimnya kompetisi untuk pemain usia muda. Ada Elite Pro Academy (EPA) memang yang sudah digulirkan sejak PSSI era kepemimpinan Edy Rahmayadi, tapi mutunya masih jauh dari kata ideal.

"Begitu datang ke Indonesia, saya melihat ada banyak orang yang berharap untuk membawa Timnas Indonesia berprestasi," tutur pria yang mengantar Seongnam Ilhwa Chunma menjadi juara Liga Champions Asia 2010 itu.

"Tetapi saya tidak bisa langsung memberikan prestasi. Indonesia harus membangun sistem pembinaan usia dini yang baik untuk perkembangan sepakbola Indonesia. Kalau sudah begitu baru tak akan ada perbedaan kualitas sepakbola Indonesia dan Korea," ucapnya berpesan.

(pur/pur)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT