Tragedi Kanjuruhan: Amnesty International Soroti Penggunaan Gas Air Mata

ADVERTISEMENT

Tragedi Kanjuruhan: Amnesty International Soroti Penggunaan Gas Air Mata

Novitasari Dewi Salusi - Sepakbola
Minggu, 02 Okt 2022 18:45 WIB
Gas Air Mata Tragedi Kanjuruhan: Aturan FIFA dan Penjelasan Polisi
Foto: AP/Yudha Prabowo
Jakarta -

Tragedi Kanjuruhan merenggut hingga 174 korban jiwa. Amnesty International menyoroti penggunaan gas air mata oleh aparat keamanan.

Kericuhan pecah di Stadion Kanjuruhan, Malang, usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya dalam lanjutan Liga 1, Sabtu (1/10/2022) malam WIB. Suporter tuan rumah yang kecewa kemudian masuk ke lapangan.

Bentrok antara suporter dan aparat keamanan di lapangan pun tak terhindarkan. Aparat keamanan kemudian juga melepaskan gas air mata untuk menghalau massa.

Pada akhirnya, tragedi ini membuat setidaknya 174 orang meninggal dunia. Ratusan lainnya mengalami luka-luka.

"Hak hidup ratusan orang melayang begitu saja pasca pertandingan bola, ini betul-betul tragedi kemanusiaan yang menyeramkan sekaligus memilukan. Perempuan dan laki-laki dewasa, remaja dan anak di bawah umur, menjadi korban jiwa dalam tragedi ini. Kami sampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban, pun kepada korban luka yang saat ini sedang dirawat, kami berharap pemulihan kondisi yang segera," ujar Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid dalam rilisnya di situs resmi.

Amnesty International secara khusus menyoroti penggunaan gas air mata oleh aparat keamanan. Mereka menyebut soal penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh aparat keamanan.

"Penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh aparat keamanan negara untuk mengatasi atau mengendalikan massa seperti itu tidak bisa dibenarkan sama sekali. Ini harus diusut tuntas. Bila perlu, bentuk segera Tim Gabungan Pencari Fakta. Tragedi ini mengingatkan kita pada tragedi sepak bola serupa di Peru tahun 1964 di mana saat itu lebih dari 300 orang tewas akibat tembakan gas air mata yang diarahkan polisi ke kerumunan massa lalu membuat ratusan penonton berdesak-desakan dan mengalami kekurangan oksigen," lanjutnya.

"Sungguh memilukan 58 tahun kemudian, insiden seperti itu berulang di Indonesia. Peristiwa di Peru dan di Malang tidak seharusnya terjadi jika aparat keamanan memahami betul aturan penggunaan gas air mata. Tentu kami menyadari bahwa aparat keamanan sering menghadapi situasi yang kompleks dalam menjalankan tugas mereka, tapi mereka harus memastikan penghormatan penuh atas hak untuk hidup dan keamanan semua orang, termasuk orang yang dicurigai melakukan kerusuhan."

Amnesty International berharap negara ikut terlibat dalam penyelidikan secara menyeluruh atas Tragedi Kanjuruhan.

"Akuntabilitas negara benar-benar diuji dalam kasus ini. Oleh karena itu, kami mendesak negara untuk menyelidiki secara menyeluruh, transparan dan independen atas dugaan penggunaan kekuatan berlebihan yang dilakukan oleh aparat keamanan serta mengevaluasi prosedur keamanan dalam acara yang melibatkan ribuan orang."

(nds/aff)

ADVERTISEMENT